cerpen, apa benar aku lahir tanpa ayah, ibu?

 apa benar aku lahir tanpa ayah, ibu?

Manusia diciptakan bebas, dan ia tetap bebas sekalipun terbelenggu.
Hari ini sekolah seperti neraka bagi ku, tak ada lagi kenyamanan, tak ada lagi keteduhan seperti tahun-tahun kemaren. Kelas tiga membuat ku pusing tujuh keliling. Bukan pelajarannya yang aku permasalahkan, bukan itu. Atau pun karena aku tidak mampu membayar SPP sekolah karena takut dikeluarkan, bukan itu. Tapi ada sesuatu yang hari ini aku membeci semua orang, terutama teman-temanku yang meledek ku. Sungguh, bagaimanapun perkataan mereka membuat ku sakit hati, perkataan mereka memojokkanku, aku tahu aku anak orang tidak berada, aku juga tahu bahwa aku dilahirkan tanpa seorang Ayah, bukan kah kata Ibu, Ayah sudah meninggal sejak aku dilahirkan, bukankah kata Ibu, Ayah meninggalkan kita semua sebelum aku lahir kedunia, sebelum aku melihat wajah dan mengenal sosoknya, lalu apa hubungannya dengan perkataan mereka tadi, lalu apa urusan mereka bilang seperti itu, bukankah itu seharusnya, tidak perlu dibeberkan, memangnya apa hak mereka. Sampai tega membuat aku sakit hati begini. Dan mengatakan Ibu ku yang tidak-tidak.
Memang aku akui, seumur-umur aku belum pernah tahu seperti apa gerangan wajah Ayah ku itu. Setiap kali aku ingin mengetahuinya dari Ibu, Ibu selalu saja membuatku menunduk, takut menatap sorot matanya yang tajam seperti amarah yang sedang berkobar, tapi kalau benar meninggal, kenapa harus begitu mata Ibu menatapku, dengan sebuah tatapan nanar, seperti ada sesuatu yang Ibu simpan erat sekali. Yang aku sama sekali tidak mengetahuinya. Apakah dengan meninggalnya Ayah, membuat Ibu membenci ku atau ada hal lain yang Ibu sembunyikan dari ku. Tapi aku takut sekali menanyakannya, aku sungguh takut. Aku takut Ibu marah dan sakit hati atas pertanyaan ku, tapi, suatu saat nanti aku pasti akan menanyakan sama Ibu, apa yang selama ini membuat ku resah. Apa yang membuat ku dibully disekolah, dan itu hampir membuat jiwa ku down, untung saja aku sabar menerimanya, dengan perlakuan seperti itu. Bagi aku, dIbully hal yang lumrah, bagi aku disakiti hal yang biasa, mungkin saja aku ditakdirkan sama Tuhan memang untuk disakiti. Mungkin saja Tuhan punya tujuan tertentu mengapa aku harus mendapat perlakuan seperti itu, Ya mungkin saja.
“dasar anak haram.” Kata salah seorang murid perempuan yang mengejek ku.
“bicara apa kamu?” kata ku tak kalah geramnya dengan mulut busuknya itu. “siapa yang anak haram, kamu kalau bicara hati-hati.”
“iya kan teman-teman, Lia anak haram ternyata. Kalian tidak pernahkan melihat Ayahnya datang keacara-acara yang setiap kali diadakan sekolah, selalu Ibunya yang datang, kata Ibu aku sih, katanya dia anak haram gitu.”
Kurang ajar umpat ku dalam hati. Akhirnya kesabaran ku hilang. Dengan cepat aku jambak rambutnya sekuat tenaga agar membuatnya jera, dan lebih berhati-hati lagi untuk berbicara dengan orang lain. “buat apa kamu bilang begitu?, buat apa kamu meghina aku didepan teman-teman seperti itu?, sebenarnya apa masalah aku sama kamu, apa. Hah?, rasakan ini, rasakan. Orang seperti kamu pantesnya di jambak, biar tahu rasa. Biar gak nuduh orang sembarangan lagi.” Kataku tak kalah sengitnya.
“oww, oww, oww. Sakit, sakittt.” Rintihnya.
Tiba-tiba ditengah pertarungan antara aku dan bocah sialan itu, datang kepala sekolah. Melarai perkalahian. “ada apa ini?” kata Bu Salamah.
            “Lia, Nana ikut Ibu keruangan kepala sekolah. Dan jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?”
            Akupun berjalan dengan lesu, menunduk melewati anak-anak yang berjejer didepan kelas melihat kami digiring keruangan kepala sekolah untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi, kalau saja bukan gara-gara si mulut sialan itu, aku pasti tidak sampai begini, mana luka cakar sana-sini lagi dimuka, pasti nanti ditanyain sama Ibu dirumah kenapa muka ku sampai lebam begitu, pasti nanti Ibu mengira aku selama ini sekolah kerjanya hanya beramtam saja, sampai rumah nanti mau bilang sama apa sama Ibu, sumpah, aku gak bisa bohong, apalagi sama Ibu.
            “Lia, apa benar kamu yang memulai duluan, sampai terjadi perkaliahan ini?” kata Bu Salamah, dengan sorot mata, seakan-akan aku yang memulai terjadi insiden yang tidak dikehendaki ini.
            “bukan Bu, bukan saya. Dia duluan yang memulai.”
            “bukan Bu, dia duluan. Dia tuh yang memulai menjambak rambut saya, sakit tahu.”
            “apa-apaan kamu nuduh aku. Enak aja, kalau kamu gak bicara kayak tadi gak mungkin aku menjambak kamu, makanya mulut disekolahin, biar pintar, biar gak nyeroyos.”
            “diiamm…”suara Bu Salamah menggelagar. Menghentikan suara beradu kami yang sibuk nyeroyos, dan saling menyalahkan.
“Lia, jawab pertanyaan Ibu, dan kamu Nana diam!, jelaskan apa sebanarnya yang terjadi, sampai kamu menjambak rambut Nana?”
“begini Bu, akhir-akhir ini si Nana sering sekali membully saya, dengan mengata-ngatai saya dengan sebutan anak haram. Awal-awal mendengar perkataan itu saya sangat sakit Bu, bagaimana mungkin dia bisa mengata-ngatai saya seperti itu. Tapi saya hanya diam dan bersikap sabar, tapi makin lama, mulutnya makin gatal untuk tidak menyebut saya anak haram. Sayapun kehilangan kesabaran, dan pada akhirnya saya menjabak rambutnya supaya dia jera, supaya dia tidak begitu lagi sama saya, tapi pas disuruh ngaku sama Ibu, malah gak nagku. Padahal yang duluan cari gara-gara dia. Saya juga bingung Bu, salah saya sama dia apa, sampai-sampai kok tega banget bilang seperti itu, apalagi dihadapan teman-teman.”
            “Nana, kenapa kamu bicara seperti itu, dari mana kamu dapat kabar yang tidak baik begitu”.
            “eee…eee..dari Ibu saya, Bu. Katanya Lia, anak haram, katanya Lia anak diluar nikah, Ayahnya Lia bukan meninggal dunia tapi pergi meninggalkan Lia yang saat itu masih dikandungan Ibunya.” Mataku terbelalak mendengar pengakuannya yang diluar dugaan itu, aku tak mampu lagi berbicara apa-apa. Jadi, jadi selama ini ibu membohongiku, dengan mengatakan bahwa Ayahku sudah meninggal, jadi, ibu selama ini menutup-nutupi, dengan mengatakan Ayah sudah meninggal sebelum aku dilahirkan, iya berarti Ayah memang meninggal, tapi tidak meniggal dunia, tapi meniggalkan aku dan ibu, meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus. Meningggalkan setitik noda dikehidupan ibu, meninggalkan kebencian dan kehinaan di tubuh ku. Tidak, tidak, pasti ini berita bohong, pasti yang disebutkan Nana itu tidak benar, pasti ibunya hanya mengada-ngada dan hanya mempermalukanku saja. Pasti itu bohong, dan aku sungguh tak terima. Aku tak terima ibu.
            “tidak, tidak, Na kamu pasti bohong. Kamu pasti bohong. Iyakan, iyakan. Kenapa kamu diam aja, kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku, jawab Na, jawab.” Nana hanya diam saja, dia tak bisa berkutik apapun saat aku menanyakan kebenarannya, dia takut sekali menatap mataku, saat aku menggoyang-oyangkan tubuhnya, mencoba agar dia bilang itu adalah berita bohong, dan itu hanya sebuah lelocon agar aku dipermalukan.
            Akupun berlari, meninggalkan ruangan kepala sekolah. Juga meninggalkan mereka berdua diruangan itu, aku tak peduli mereka memanggil nama ku, aku tak peduli pada anak-anak yang kebingungan melihatku keluar dengan tangisan. Aku benci semuanya, aku benci. Kenapa Tuhan, kenapa anak haram itu melakat pada diri ku. Kenapa?
            Apa salah ku selama ini, apa salah ku.
            Akhirnya, aku memutuskan pulang sekolah sebelum jam pelajaran berakhir, aku tak peduli ketika aku nanti diabsen apakah dialpa atau di ijinkan. Yang aku tahu sekarang, aku harus pulang menanyakan kebenarannya sama ibu, bahwa itu bohong, bahwa itu tidak benar.
“ada apa dengan wajah mu, lebam begitu. Kamu habis beramtem ya Lia?” kata ibu, sambil berjalan menuju kearah ku.
“tidak” jawabku berbohong.
“jangan bohong sama ibu, kamu habis berkalahi ya?” kata-kata ibu mulai mengeras, seakan-akan ibu tahu kalau sebenarnya aku memang sedang berbohong.
“iya, abis nya teman-teman Lia bilang kalau Lia anak haram, kalau Lia dilahirkan dari hubungan diluar nikah, mereka bilang Ayah Lia, bukan meningggal dunia melainkan meninggalkan ibu yang saat itu tengah mengndung Lia, katanya Ayah Lia tidak bertanggung jawab atas kehamilan ibu. Iya kan Bu.” Mendengar itu mata ibu membelalak, heran dari mana aku mendapat kabar seperti itu, muka ibu yang tadi sudah mulai memerah akhirnya tambah merah seperti api yang sedang panas-panasnya. Ibu geram sekali mendengar aku berbicara bahwa memang aku anak haram.
Plak, tamparan ibu menadarat diwajahku, tak ku sangka ibu tega menampar ku.
“ngapain kamu mendengarkan perkataan orang, memangnya dia yang membesarkan kamu selama ini, memangnya dia yang merawat kamu sampai sebesar ini. Bukan kan, ibu yang selama ini merawat dan menjaga kamu mati-matian, buat apa kamu bertanya seperti itu, bukannya ibu sudah berkali-kali bilang kalau Ayah kamu sudah meninggal, sudah tidak ada. buat apa di bahas lagi?”
“tapi kalau benar Ayah Lia sudah meninggal, kenapa ibu tidak pernah mengenalkan Lia sama keluarga Ayah?, kenapa Bu?, kenapa selama ini Lia tidak pernah tahu sama keluarga besar Lia sendiri, apa ibu tidak punya keluarga?. Didunia ini satu-satunya yang Lia kenal Cuma ibu, Cuma ibu. Dan mana keluarga besar Lia yang lainnya? di mana Bu?”
Aku terus mendesak ibu agar ibu mau bercerita yang sebenarnya, agar tak ada lagi kebohongan yang harus ditutup-tutupi di antara aku sama ibu, agar jelas semuanya. Aku tidak ingin mendebat ibu seperti ini. Tapi, aku juga butuh kejelasan. sebenanya aku ini anak siapa, anak siapa?.
Tiba-tiba ditengah tangis dan kegundahan ku, ibu memeluk ku erat sekali, Ibu seperti ingin mengucapkan sesuatu dari bibirnya, tapi melihat tangis ku yang makin keras terdengar, pelukan ibu semakin erat.
“maafkan ibu Lia, maafkan ibu. Ibu selama ini membohongimu dengan mengatakan bahwa Ayah mu meninggal. Ibu tidak ingin membuka luka yang telah ibu simpan belasan tahun kembali menganga, ibu tidak ingin mengingat masa lalu yang kelam yang telah ibu lakukan. Ibu mungkin bukan ibu yang baik buat kamu, ibu banyak dosa, ibu melahirkan hanya membuat mu malu dengan masa lalu ibu.”
“maafkan ibu Lia, jika kamu mendengar pengakuan ibu membuat mu sakit hati, membaut mu merasa terhina, karena semua kesalahan ini berasal dari ibu. Ibu yang membuat mu malu di depan teman-teman mu, ibu tak pantes menjadi teladan bagi mu Lia, sungguh tak pantes, maafkan ibu Nak, maafkan kesalahan ibu.” Ibu menangis sejadi-jadinya dipundak ku sambil memeluk ku dengan erat sekali, seakan-akan ibu merasa sangat bersalah dan berdosa telah melahirku sebagai sebutan anak haram.
Pagi ini ku sambut senyuman matahari dengan ceria, melupakan malam yang penuh  dengan pekatnya kegelapan. Semoga aku sabar menerima segalanya. Menerima takdir yang telah ditentukan dan digariskan Tuhan untuk ku, buat apa aku berteriak tidak ingin takdir seperti itu. Toh Tuhan punya cerita lain tentang hidup ku, masih banyak orang-orang yang kekurangan bisa menerima dengan lapang dada yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kenapa aku tidak? Bukankah tuhan akan murka melihat hambanya tidak mensukuri hidup. Bukankah Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk bisa memikirkan jalan yang telah dibentangkan untuk dilalui, lalu buat apa Tuhan memberi akal kalau tidak untuk dipikirkan.
Namaku Lia, aku terlahir tanpa Ayah. Kata ibu “itu takdir.”


           
           





Komentar

Postingan Populer