cerpen, cerita mama


Suatu hari aku pernah menanyakan sesuatu sama Mama, tentang bagaimana Mama bisa mencintai Papa. Tapi apa jawaban Mama saat itu “cinta Nak, cinta yang membuat Mama bertahan saat ini, karena cinta juga kamu ada didunia ini Nak.”  Mama selalu saja membela Papa, dengan dalih ini-itu dan kali ini, lagi-lagi karena cinta alasannya kenapa Mama bertahan sampai saat ini dan tetap mencintai Papa.
            Itulah Mama, orang paling sabar yang pernah aku temui. Orang yang paling setia sama pasangan hidupnya, meskipun Mama sering menangis dan tersiksa atas sikap Papa yang kurang ajar. Maaf Pa, aku menyebut Papa kurang ajar, karena laki-laki macam Papa pantesnya memang disebut seperti itu. Kalau bukan kurang ajar berarti kurang…
            Ah, apalah sebutannya.
            Beberapa puluh tahun silam, Mama pernah cerita.
 “waktu itu usia Mama baru delapan belas tahun Nak, baru beberapa tahun lulus sekolah menengah pertama di desa. Waktu dulu perempuan dilarang sekolah tinggi-tinggi sama orang tua mereka, mungkin alasannya sederhana pada nantinya anak perempuan juga akan kembali ke dapur. Itulah yang ada dibenak orang tua jaman dulu ketika anak perempuan ingin sekolah tinggi-tinggi. Makanya kenapa Mama saat ini hanya mampu menyelesaikan sekolah tingkat pertama saja. Setelah itu Mama hanya dirumah, mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan anak perempuan, selain memasak, beres-beres rumah. Mama juga menjaga adik-adik Mama yang lain, yaitu paman-paman kamu, Mama adalah satu-satunya anak perempuan dari enam bersaudara, dan semua saudara Mama adalah laki-laki. Kakek-nenek kamu menekankan Mama patuh terhadap orang tua, apabila tidak mengikuti apa kata orang tua, maka diangggap sebagai anak durhaka. Terkadang perintah orang tua lebih penting ketimbang perintah Tuhan, Nak. Apabila tidak cepat-cepat melaksanakan apa yang diperintahkan, maka lihat saja nanti. Apa yang mereka ucapkan akan berdampak negatif, kata-kata orang tua seperti kutukan. Bahkan ancamannya lebih menyeramkan dari pada sebuah ancaman tuhan apabila kita melalaikannya.”
            Betapa bedanya sopan-santun anak perempuan pada masa itu, bayangkan saja dengan sekarang, sungguh amat berbeda. Akupun salah satu anak perempuan yang terdidik dari zaman sekarang, bahkan akupun terkadang suka melawanan sama orang tua, terutama sama Papa. Ah, lagi-lagi Papa. Rasanya sulit sekali untuk patuh terhadap Papa, apalagi setelah aku tahu dari banyaknya dan seringnya Mama bercerita bahwa Papa, sering memperlakukan Mama tidak berprikemanusian, dan anehnya Mama masih sanggup tinggal beberapa puluh tahun, demi mempertahankan cintanya. Demi satu cinta untuk satu orang laki-laki,  dan itu berarti demi Papa. Ya ampun demi Papa. Tuh, kalau aja Papa mau mendengarkan pengakaun dari Mama, pasti Papa tak sekejam ini.
            Dasar laki-laki psikopat. 
            “saat itu Mama sama sekali belum kepikiran untuk menikah, meskipun umur Mama sudah mencapai umur untuk menikah. Bukan tidak siap atau tidak ada calon, tapi kakek, tidak merestui hubungan Mama dengan orang yang Mama cintai saat itu. entahlah, apa yang ada dipikiran kakek mu saat itu sampai-sampai tak merestui hubungan kami. Mama sudah mencoba berbicara dengan kakek-nenek, tapi mereka tetap bersikeras tidak akan merestui, bagaimanapun caranya.”
            “akhirnya, setelah beberapa bulan kejadian itu terjadi, Mama mendengar kabar, bahwa Mama dijodohkan oleh kakek. Katanya dari kerebat jauh, Mama menolak perjodohan itu, karena saat itu Mama sangat mencintai kekasih Mama. Mama tidak ingin menikah dengan orang yang sama sekali tidak Mama cintai, bagaimana mungkin saat itu Mama bisa mencintai, kenal saja Mama tidak, apalagi bertemu. Lagi-lagi perdebatan antara Mama sama kakek-nenek kalah, dan sebagai anak, Mama patuh dan menurut apa kata orang tua. Mereka bilang, orang tua tahu mana yang terbaik buat hidup anaknya, buat masa depan kebahagian anaknya. Pada akhirnya Mama mengalah. Mau dijodohkan dengan pilihan mereka, saat Mama mengambil keputusan seperti itu, saat itu juga ada hati yang terluka. Ada hati yang sungguh teriris dan pilu mendengar Mama akan melaksanakan pernikahan, bukan sama dia, melainkan bersama orang lain.”
            Setiap Mama becerita, Mama tidak pernah menyebutkan nama laki-laki yang pernah Mama cintai pada waktu itu. Sebenarnya aku sangat penasaran sekali, siapa laki-laki dan kekasih hati yang Mama ceritakan itu. Siapa? Mama sangat berhati-hati sekali menceritakan alur demi alur cerita berpuluh-puluh tahun silam itu, Mama merangkai kata demi kata agar tidak kecoplosan ataupun salah sebut nama orang, akupun berdoa agar Mama mau menyebut nama lelaki misterius itu, tapi hasilnya tetap saja nihil, Tak ada. Dia berasal dari mana saja Mama tidak pernah menyebutkan, setidaknyakan aku tidak penasaran-penasaran banget. Akupun mencoba untuk bertanya mengenai hal itu tapi Mama langsung menjawab “karena kalau Mama sebutkan nama itu, itu berarti cinta dan kasih sayang Mama akan berkurang sama Papa kamu, biarkan saja Mama tak perlu menyebutnya, biarkan saja dia bagian dari bingkai cerita dari masa lalu Mama, tak perlu kamu tahu Nak. Yang perlu kamu ketahui sekarang adalah bahwa Mama sangat mencintai Papamu dan juga kamu, anak Mama. Tak apa Nak, Mama sering terluka. Karena itu pilihan dan resiko Mama memlih Papamu, tapi bukan Mama tidak bahagia, bukan Nak, kamu jangan salah paham dan beranggapan seperti itu.  Mama bahagia hidup bersama Papamu, dan juga mungkin itu cara Papamu, untuk bisa mencintai Mama dengan cara dan perlakuakannya begitu.”
            Mungkin, tapikan kemungkinannya sedikit.
            Kesal sekali aku mendengar pengakuan Mama begitu, bagaimana mungkin dengan cara Papa seperti itu bisa mencintai Mama, seharusnyakan kalau Papa mencintai Mama tidak memperlakukan seperti itu, sebanarnya Mama sama Papa itu cinta gak sih? Kalau cinta kenapa harus ada yang tersakiti, kalau cinta kenapa harus ada sebuah ikatan pernikahan, bukankah pernikahan didasari dan dipondasi  dengan sebuah cinta dan juga kasih sayang, kalau begitu adanya, dimana letak yang namanya cinta? Dimana letak yang namanya sayang. Percuma sajakan, memutuskan untuk membina sebuah keluarga, toh didalamnya dan diantaranya tidak mencintai dan lebih parah lagi, harus ada yang tersakiti. Apa gara-gara adanya aku, Mama tidak ingin pisah dari Papa. Apa gara-gara aku juga Papa meninggalkan Mama karena Mama lebih sayang dan juga perhatiannya lebih banyak tercurahkan kepadaku, tapikan wajar, aku anak Mama. Terus Papa. Papa apa masalahnya sampai begitu tega tidak menghiraukan kami, terutama Mama.
            Aduh Pa, kenapa sih Papa sering gak ada dirumah?, kenapa sih Papa sulit sekali rasanya untuk berkumpul bersama-sama. Pa, aku aja lupa kapan terkhir kita makan bersama, apalagi bercanda bersama. Pa, aku juga merasa tidak punya Papa kalau begini adanya. Aku merasa Papa tidak lagi perhatian sama kita.
            Aku mencium hangat pipi Mama, ada bulir air mata yang mengalir. Akupun menyapunya lantas setelah itu aku mecium kening dan pipi Mama lagi dengan penuh takjim. Betapa beruntungnya aku dilahirkan dari seorang perempuan  yang begitu sabar. Begitu kuat dengan segala kemampuan hatinya, menghadapi cobaan serta ujian hidup yang sering menimpa. Mama, aku mencintaimu. Aku minta maaf, aku sering mengecewakan Mama. Aku tahu apa yang aku lakukan salah, tapi Mama begitu sabar menghadapi ku, terutama menghadapi Papa. Aku tahu itu sangat menyakitkan hati Mama, tapi Mama memilih sabar dan mengalah setiap kali itu bertentangan dengan Mama. Ma, kali ini aku akan nurut apa kata Mama. Aku tak ingin lagi melihat ada kesedihan diraut muka Mama. Rasanya terlalu menyakitkan aku Ma, dengan deraian dan linangan air mata. Sudah cukup Mama menderita seperti ini. Dan aku tak akan pernah lagi, tak akan pernah lagi membuat Mama bersedih. Aku janji Ma, aku janji.
            “setelah beberapa minggu digelarnya acara resepsi perkawinan yang meriah itu, Papa membawa Mama kekampung halamannya, letak desa itu jauh sekali dari kata keramain, jangankan keramaian, disana listrik saja  belum masuk. Jauh sekali Nak dari perkotaan. Mobil saja susah sekali masuk didesa itu, orangnyapun juga tidak banyak. Sebagain besar penduduk disana juga kebanyakan dari trans, berasal dari jawa. Karena mata pencaharian penduduk disana juga rata-rata berkebun.”
            “Mama kok mau dibawa ketempat yang jauh seperti itu.” Tanya ku pada waktu itu.
            “karena, kalau perumpuan sudah dinikahkan sama orang tua mereka, maka yang harus mereka turuti bukan orang tua lagi, melainkan suami. Suamilah yang harus dihormati karena suami adalah kepala keluarga sekaligus pemimpin untuk perempuan, nanti kalau kamu sudah menikah, juga akan seperti itu Nak. Makanya kamu jangan suka membangkan sama laki-laki, terutama sama Papa, bagaimanapun kasar dan kejamnya  Papa terhadap Mama. kamu harus patuh dan menghormati Papa. Dia itu orang tua mu Nak, dia itu Papa mu. Mama tidak ingin anak Mama, tidak menghormati orang tua, Mama tidak ingin dianggap tidak bisa mendidik anak dengan akhlak dan sopan-santun yang baik Nak, kamu sayang Mamakan, nah dari itu kamu jangan suka membangkan apa kata orang tua, Mama tahu, bukan maksud kamu ingin menyakiti Mama. Tapi Mama minta sama kamu jangan bersikap seperti itu lagi.”
            “iya Ma, aku akan mencoba tidak berlaku semena-mena lagi sama Papa, demi Mama.” Kataku dengan mata berbinar, memandang wajah teduh Mama yang mulai menua karena dimakan usia. Meskipun begitu, Mama tetap memancarkan aura kecantikan yang tidak dimiliki perempuan lainnya, ya, tentu saja aku bilang begitu karena dia Mama ku.
            “Nak, Mama selalu mendoakan mu, selalu. Mama tak ingin anak Mama satu-satunya tidak bahagia apabila suatu saat nanti sudah berumah tangga. Jika kamu mempunyai suami, sayangi suami mu, seperti Mama menyayangi dan mencintai Papa mu, satu-satunya untuk membuat orang mengenang kita adalah dengan cara kita mencintainya dengan sepenuh hati, dengan setulus hati.  Karena cinta itu mempunyai hakikat yang tidak bisa diterjemahkan dengan banyak kata-kata, hakikat cinta itu letaknya dihati dan hanya bisa dirasakan dari hati pula.”
            Hari ini aku banyak belajar arti ketulusan tentang bagaimana arti mencintai yang sesungguhnya. Kata Mama, cintai dia dengan tulus, cintai dia dengan sepenuh hati. Karena dengan cinta, semua pengorbanan, kesetian, penderitaan dan siksaan tidak akan membuat kita terpuruk. Seperti cinta Mama sama Papa yang luar biasa.

            

Komentar

Postingan Populer