cerpen sakit itu ternyata bahagia

Pernah jatuh cinta?
Pertanyaan konyol macam apa ini?, ya jelas-jelas semua orang pernah jatuh cinta. Kamu saja Zara yang tidak pernah jatuh cinta, mungkin Kamu pernah jatuh cinta. Tapi cintamu tak pernah terbalas, itu artinya cinta kamu bertepuk sebelah tangan. Seharusnya kan ada tangan lain yang menyambut tangan kita saat kita ingin di rengkul atau di dekap. Kamu terlalu jauh Zara berimajinasi, kamu terlalu sering membuat cerita sebahagia mungkin, biar hati kamu itu tidak sedih, biar hati kamu itu senang dengan apa yang  kamu pikirkan, biar semua yang ada dipikiran kamu itu seakan-akan kenyataan.
Ku akui Kamu Zara, kamu memang pandai membuat cerita cinta. Tapi aku sungguh kesihan sekali sama kamu Zara, masa Cuma sekedar dia meninggalkan kamu dengan perempuan lain kamu malah begini, dia yang kamu ratapi mungkin sedang bahagia, tidak sesedih dan semenderita yang kamu alami sekarang. Kamu sih, tidak peduli apa kata orang, kamu terlalu ingin menyimpulkan sendiri, kamu juga tak pernah mau berbagi, setidaknya kamu cerita. Agar kamu tahu keputasan mana yang tepat yang akan di ambil. Kamu terlalu diam membisu Zara. Sulit sekali aku mengartikan diam kamu itu. Apakah kamu itu menerima saja, atau malah kamu diam-diam mempunyai dendam.
Aduh Zara, aku tak mungkin juga terlalu jauh-jauh menebak-nebak kamu, siapa tahu yang aku tebak itu semuanya salah, siapa tahu kamu orangnya tidak seperti itu, hanya aku saja terlalu kepikiran sampai kesana. Sudahlah Zara, jangan diam begini. Hakikat cinta itu merelakan dan melepaskan orang yang kamu sayang, kamu jatuh cinta ya berarti kamu harus tahu dan mengerti tantang hakikat yang sebenarnya apa arti sesungguhnya cinta dan mencintai?.
Terkadang semua orang juga sama dengan apa yang kamu alami sekarang, hanya saja mereka tidak ingin terpuruk lebih jauh lagi.
Maafkan aku Zara, aku terlalu lancang.
***

Rabu malam, 11 juni 2014
Ah, jika kalian tahu maknanya dengan tanggal itu, pasti kalian tidak mengira aku macam-macam. Aku sama sekali tidak mood bercerita kesiapapun, terlau banyak cerita bahagia yang pernah kita lewati bersama kandas begitu saja, terlalu banyak pengorbanan yang aku berikan hanya untuknya. Lagi-lagi aku terlalu terobsesi yang namanya cinta. Aku terlalu buta pada kenyataan yang ada, mungkin bepuluh-puluh kali dibilang tetap saja biasanya aku ngeyel untuk dinesahati. Mungkin ini kejadiannya, akibat melalaikan nasehat, pas kena, aku baru saja menyadarinya itupun dengan hati yang sungguh amat terluka. sungguh, benar-benar hati yang terluka.
Buat apa mengingat orang yang dicintai dulu, kalau sekarang sudah jadi milik orang lain.
Buat apa, buat belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, supaya sekarang jangan terulang kembali. Kita ambil pelajarannya. Yang luka biarlah terluka, yang dulu sakit biarlah sakit, toh dulu kita sama-sama merasakan bahagia, meskipun kebahagian itu entah pergi kemana. Sama perginya dengan mu yang tidak tahu akan kabarnya lagi, kamu seperti ditelan bumi, tak tahu rimbanya sehingga tak pernah lagi aku mendengar kabar tentang mu, terakhir kali, saat kamu mengajak ku untuk makan, dan kamu mau jujur tentang sesuatu. Ah…sesuatunya terlalu menyakitkan hati ku untuk diingat.
Sebenarnya dulu aku ingin ngasih kabar kebahagian saat itu, tapi kamu lebih dulu menyampaikannya, dan aku hampir syok mendengar pernyataan itu semua. Bahkan hampir mati.
Hampir mati sayang, hampir.
“Zara, aku tidak bisa meneruskan hubungan kita aku..a.k..u..ak…uuu..”
“aku..aku..aku apa Rafa?, coba sebutkan jangan bikin aku penasaran?”
“maafkan aku Zara, aku akan mencoba berterus terang sama kamu, apa sebenarnya yang terjadi.?”
“ya sudah, coba ungkapkan, memang apa yang terjadi sama kamu, kenapa semuanya jadi mendadak gugup begini?, kamu tidak mencintai aku, kamu tidak sayang sama aku, atau kamu suka sesame jenis, atau…?”
“aku besok nikah sama orang lain, Zara. Sama orang lain.” Aku merasa dunia saat itu sedang runtuh, rupanya Tuhan benar-benar membuat impian dan dunia ku kiamat. Aku lemah dan tak percaya mendengar apa yag barusan dia ungkapkan, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi, bagaimana mungkin. Sungguh aku benar-benar tak terima. Ingin sekali rasanya saat itu aku berlari menghempaskan tubuh ku pada malam yang pekat pada malam yang gelap ini, dan membuang jauh-jauh pertemuan ini.
 “Bukan sama kamu yang selama ini aku inginkan, Zara.  aku sungguh mencintai kamu Zara, sungguh, takkan bisa orang lain menggatiakan kamu di hati ku. Ini semua terpaksa aku lakukan demi orang tua ku Zara.” Sungguh, kebencian itu datang seketika. Padahal beberapa menit setelah kejadian itu aku luar biasa senangnya, kebagian kita tinggal selangkah lagi, tapi apa, apa yang terjadi. Dunia memang tengah kejam sekali. Merenggut kebagaian ku. Membuat kuterluka.
“bohong, kalau kamu mencintai aku, kenapa kamu tidak menikah denganku?, kenapa kamu justru menikah dengan orang lain?, kamu anggap aku apa selama ini, kamu anggap aku boneka yang sesukanya kamu permainkan, hah.”
“Zara…..”
“kamu memang brengsek Rafa, kamu memang biadab. Aku ini manusia Rafa, aku ini manusia. Aku punya perasaan.” Aku menangis dan memukulnya serta menjambak bajunya sekuat tenaga, aku berontak.
“Zara maafkan aku, maafkan aku Zara. Sungguh bukan aku ingin menyakiti hati mu, aku tak ingin membuat luka dan kekecewaan dalam diri mu, tapi orang tua lebih utama Zara, aku tak ingin mengecewakan meraka sama dengan tidak inginnya aku menegcewakan mu Zara, sungguh…” aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi dia jauh lebih kuat memeluk ku ketimbang aku berontak ingin melepaskannya. Rasanya terlalu jijik di peluk orang yang tidak bisa mempertahankan orang yang dicintai. Percuma, percuma dan ini benar-benar sudah terlambat.
Sejak saat itulah aku tak pernah tahu lagi, dan ini memang sengaja aku tak mau tahu tentang nya sedikitpun, kalaupun ada oarng yang menyebut-nyebut namanya aku akan menjauh berusaha menghindar, baut apa didengar?. Biarkan saja orang itu meracau, sampai berbusapun aku tak peduli.
Persetan…
Dia saja tidak peduli dengan ku, dia saja sampai tega membut ku begini hancur dan terlukanya. Terkadang ketika orang yang kita bangga-banggakan, yang disayang-sayang sudah menjadi kenangan masa lalu. Biar waktu yang menjadi obat, memperbaiki semua keadaan, membuat masing-masing dari kita sadar. Bahwa hakikat cinta itu dekat sekali dengan kata perpisahan, bahwa kata sayang itu erat sekali dengan kata putus. Seiring dengan waktu berlalu, Tuhan pasti berbaik hati. Tidak saat ini, mungkin suatu saat nanti. Dan aku yakin Tuhan punya skenario terindah buat manusia-manusia di muka bumi ini, hanya saja kita terlalu yakin dengan manusia sehingga lupa bahwa manusia janjinya tidak bisa dipegang.
***
“tarimakasih Dili, sejauh ini kamu banyak membantu keadaan ku sekarang.”
“iya sama-sama, kesahatan kamu di jaga. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang aneh-aneh. Kamu dikasih tahu Cuma iya-iya aja, aku tinggal dulu ya.”
“iya,, hati-hati Li, maaf aku terlalu merepotkan mu.”
“santai aja Zara, aku berangkat ya,,daaaa!.”
“daaaahh…” Dili pun berlalu dari bilik pintu, tak kelihatan lagi bayangannya. Entah pergi kemana. Selama ini Dili cukup perhatian sama aku, mungkin kami sama nasibnya, hanya saja dia orangnya lebih terbuka, homuris dan bisa membuat suasana sedih jadi menyenangkan. Ah, andai saja aku punya sifat seperti Dili, pasti aku sekarang lebih kuat menjalaninya.
Melawati hari-hari yang kelabu ini, aku sama sekali tak bersemangat hidup, dunia terang-benderang tapi hati merasa kelam tak bisa menerima cahaya. Bangkit dari rasa terluka dan merana pun sudah untung. Ternyata hidup itu pilihan, memilih apa yang kita inginkan buat masa depan, tapi bukan kah pilihan selalu punya resiko. Tak ada di dunia ini manusia paling bahagia tanpa pernah merasa menderita dan juga kecewa. Tapi, atau juga mungkin, orang-orang disana mampu melawatinya, mampu membuat dirinya sendiri bangkit. Tapi kenapa aku tidak?.
Akhir-akhir ini, dalam beberapa bulan lalu. Aku  sering sekali mengurung diri dikamar, membisu, tatapan kosong, tak ada gairah hidup sama sekali. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya. Dengan caraku begini aku tak peduli, sikap ku juga aneh-aneh padahal aku disuruh untuk tidak memikirkan hal yang membuat kesehatan ku menurun. Dan satu lagi, terkadang Dili lebih peduli dengan keadaan ku sekarang  ketimbang dengan dirinya sendiri. Dili, kamu seperti malaikat dalam hidup ku, kamu sungguh teramat baik. Sampai kapanpun aku tak akan pernah lupa bahwa kamu sahabat terbaik yang aku punya, kamu mengerti segalanya, kamu mau saja menerima ku dengan keadaan yang menyedihkan ini.
Terimakasih Dili, terimakasih.
***
“Zaraaaaa….Zaraaaaa….”
Aku terkulai lemas, melihat keadaan Zara yang menyeramkan. Zara yang selama ini mati-matian bertahan untuk tidak bunuh diri, ternyata tak mampu mengurungkan niatnya, malam ini, malam yang hampir tak berwarna malam yang membawa Zara pada pilihan terakhirnya untuk bahagia, meskipun memilih pilihan dengan amat tragisnya. Bagaimana tidak tragis, gantung diri dikamar, setalah banyak minum obat aneh-aneh yang disarankan dokter dan tidak juga mau mati-mati.
Tapi lihatlah malam ini, aku sungguh bungkam seribu bahasa. Tak ku sangka kamu Zara, ternyata batin mu lebih rapuh dari raga mu. Semoga ini benar-benar pilihan yang tepat yang pernah kamu ambil untuk menjadi sebuah keputusan Zara, semoga…
***
Zara, cerita kita sama, aku tak ingin lagi mengungkit masa lalu ku yang dulu. Aku tahu bagaimana posisi yang kamu alami, karena aku juga pernah merasakan apa yang kamu alami, hanya saja aku tidak sebodoh kamu Zara, untuk mengambil pilihan, pilihan  bunuh diri, mungkin saat itu aku juga terlintas dipikiran bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan untuk menang, untuk bahagia. tapi sekali lagi aku bilang, itu bohong Zara, itu bohong.
Akupun juga pernah jatuh cinta sama seseorang, rela berkorban apa saja. Tapi apa yang kita dapat Zara, apa?. Kita di tinggalkan, alasannya tidak masuk akal. Oh…aku baru sadar, mudah sekali kita kena rayuan gombal yang keluar dari mulut laki-laki super busuk. Dengan ribuan janji manis, dengan ribuan kasih sayang yang dia berikan.
***
Seandainya saja, Rafa (yang menurut kamu Zara, lelaki paling teguh memegang janji), mau bertanggu jawab atas ini semua. Atas kehamilan yang saat itu hendak kamu sampaikan. Tapi membuat kamu tak berkutik dan tak mampu lagi menyampaikannya. Karena kamu terlalu syok menerima kenyataan yang ada, cinta, kasih sayang, pengorbanan serta kesetian yang  kamu berikan pada Rafa hancur sudah, pupus sudah selama-lamanya.
Jika saja, kamu lebih awal memberitahu pasti kamu tidak mengambil pilihan seperti ini, tapi takdir punya cerita lain Zara. Belum sempat kamu memberitahu kabar tentang kehamilan kamu itu, kamu sudah memutuskan untuk pergi, untuk tidak lagi memberi kabar tentang kamu, kesiapapun. Termasuk orang tua kamu sendiri.
Zara,,, akupun juga sama kamu, tapi aku tidak bunuh diri mengenaskan seperti itu. Aku juga pernah hamil tapi aku menggugurkannya, dan itulah kesalah terbesar dalam hidup ku, membunuh darah daging ku sendiri, membuat mati mengenaskan janin ku sendiri. Dan itu lebih parah dan menyakitkan dari pada kamu.
Tapi.
Malam ini aku ingin tenang, tidur nyenyak. Berharap besok pagi punya cerita awal kehidupan yang baru, semuanya dengan yang baru. Telah banyak cerita masa lalu yang bisa diperbaiki di hari esok, semoga waktu berbaik hati dengan ku Zara. Semoga…
Cerita sakit itu membuat kita bahagia, dengan pilihan kita masing-masing Zara.
***


Komentar

Postingan Populer