Aku Tak Bertanya Lagi Kenapa?
Mama, Papa.
Mereka bercerai
semenjak aku kecil, aku tak tahu apa alasan mereka berpisah. Yang aku tahu
sekarang tak ada Mama Papa disamping ku. Aku juga bahkan lupa kapan, Mama, Papa
mencium dan memeluk ku secara bersamaan. Aku benar-benar lupa.
Meskipun aku ikut
tinggal sama Mama, tapi…..
***
“Aliya, kamu
baik-baik ya sayang dirumah? Mama mungkin Cuma satu bulan di Singapur. Ada
pekerjaan yang mengharuskan Mama kesana.”
“penting banget ya
Ma, sampai-sampai gak pernah ada waktu buat aku?”
“bukan gitu
sayang. Kamu ngertiin Mama dong. Kalau Mama gak kerja kita gak akan tinggal
ditempat mewah seperti ini.”
“udah deh, Mama
gak mau debat sama kamu. Nanti kalau mau oleh-oleh kamu telpon Mama aja, Mama
lagi buru-buru.”
“dah, sayang..i
love u.”
“dahhhhhhhhh……”
Seperti iitulah
kebiasaan sama Mama, selalu gak ada waktu. Kerja, kerja dan kerja yang penting
buat Mama. Pekerjaan selalu jadi prioritas
Mama. Dan aku selalu dinomor duakan. Benar-benar ngeselin.
***
Aku Aliya,
terlahir dari keluarga broken home, jika bisa aku memilih aku tak akan mau
dilahirkan tanpa orang-orang yang aku sayangi disisiku. Tapi itu tak mungkin,
kenyataannya aku jadi anak mereka. Sampai sekarang. Tujuh belas tahun yang
lalu…
Aku tak pernah
menemukan jawabannya setiap kali aku bertanya buat diri sendiri.
Kenapa….?
Dan selalu jadi
tanda Tanya besar didalam kepalaku.
Buat apa mereka
menikah, jika akhirnya hanya untuk berpisah. Bukankah dulu janji suci yang
mereka ucapkan untuk selalu bersama, terus kenapa harus ada perpisahan. Memang
benar setiap pertemuan itu selalu melahirkan perpisahan, kecuali jika salah
satu dari mereka ada yang menutup mata terlebih dahulu. Lalu dimana masalahnya.
Setiap kali aku
Tanya Mama, jawabannya.
“sayang, Mama sama
Papa berpisah secara baik-baik.” Dan selalu itu jawabannya. Aku merasa curiga
jangan-jangan Mama berpisah karena…..
***
Didunia ini semua
orang menginginkan kebahagian. Menginginkan orang yang disayangi selalu
disamping dan itu selalu bersama-sama. Tapi tidak denganku.
Sebelum Mama
pulang kerumah, Nenek dari Mama ngejenguk aku. Katanya kangen gara-gara aku gak
pernah lag kerumahnya. bukan gak pernah, tepatnya jarang banget buat kerumah Nenek.
Aku males dan juga bête, setiap kali kerumah Nenek, sepupu aku semua pada sama
orang tuanya. Dan aku..lagi-lagi sendiri. Aku merasa meraka mengucilkan
keluargaku, terutama sebab Mama Papa berpisah, mungkin itu bukan kesalahan
mereka, itu takdir, dan takdir juga akhirnya aku terlahir kedunia dari mereka.
Meskipun aku gak tahu apa sebab mereka berdua berpisah. Aku takut, kalau aku
tak pernah diharapkan lahir kedunia sama mereka. Aku merasa seakan-akan aku
petaka buat keluarga mereka. Dan…
Semoga pkirin
konyol ini tidak benar-benar nyata.
“nek, aku mau
nanya sama Nenek?”
“iya, ada apa cu, kok
kamu seperti tidak semangat, sekarangkan ada Nenek, senyum dong. Jangan cemberut
seperti itu. Nanti cantiknya bakalan hilang.”
Akupun tersenyum,
senyuman yang dipaksa-paksakan.
“nek, aku pengen Nenek
ceritakan. Dulu hubungan Mama Papa seperti apasih?”
Aku tak bisa lagi
menyembunyikan rasa peasaranku, untuk tidak bertanya sama Nenek, akhirnya hari
ini aku memutuskan untuk bertanya.
“kenapa? Cuk?”
“iya, penasaran
aja, Aliya meresa seperti gak punya orang tua, Mama sibuk terus. Sedangkan Papa.
Juga sama, sama sibuknya dengan kelaurganya. Aliya gak mau ikut Papa, Aliya
takut sama ibu tiri nek, Aliya gak mau.”
“nek,
plisss..ceritain kenapa Mama Papa menikah dan akhirnya berpisah?”
Aku memohong
dengan tangan bersimpul didada memohon agar Nenek mau bercerita yang
sesungguhnya, agar rasa penasaranku tidak lagi membeludak dan membuatku pusing
memikirkan, kenapa dan selalu kenapa?
Akhirnya, Nenek
membetulakan posisi duduknya, menghadapku dengan wajah serius, baru kali ini
aku melihat tatapan Nenek seserius ini sama aku dan melihat tatapan Nenek
seperti itu membuatku merasa gugup dan tertunduk. Mungkin Nenek kehabisan
kata-kata untuk bertanya balik apa yang sesungguhnya membuat ku ingin sekali
mengetahui tentang cerita masa lalu Mama Papa. Semoga tak ada kemarahan ataupun
kemurkaan atas pertanyaan aneh ini.
“hmmmmm….” Nenek
dalam sekali menghirup udara, lalu pelan-pelan menghembuskannya.
Aku semakin
penasaran, menunggu-nunggu cerita apa yang akan Nenek lontarkan. Dengan wajah
serius penuh tanda Tanya aku pasang wajahku dihadapan Nenek..
Dan…
Nenek mulai bercerita.
“Aliya, dulu Nenek sama kakek, menjodohkan sama Papamu. Mamamu
tidak mau untuk dijodohkan, tapi kami memaksanya, jika tidak mau dijodohkan kami
mengancam bahwa jangan pernah lagi anggap kami orang tua. Akhirnya, dengan hati
yang berat dan penuh keterpaksaan Mamamu mau menerima perjodohan itu. Karena
mendapat ancaman seperti itu.”
Nenek memejamkan mata, menghirup udara lalu, lagi-lagi menghembuskannya
dengan pelan-pelan.
“pernikahan itupun terlaksana, Nenek dan kakek juga tidak tahu
bahwa Mamamu sangat keberatan sekali. Padahal Papamu dari kelaurga baik-baik
dan juga keluarga terpandang. Alasan Nenek menikahkan supaya Mamamu bahagia dan
mapan secara materi, tapi kami sebagai orang tua salah menilai.”
“pernikan itu Cuma berjalan sampai dua tahun, rumah tangga mereka
seperti nereka. Kami mendengar keributan-keributan yang mereka ciptakan dirumah
tangga mereka, tak ada sama sekali keharmonisan ataupun sapaan-sapaan sayang
satu sama lain. Pernikahan mereka terasa hambar, tak ada apa-apa. Meskipun
dilihat sekilas, mereka seperti orang bahagia, dari segi materi mereka sangat
berkecukupan. Tapi sungguh sayang tak ada cinta didalamnya.”
“suatu hari, Mama sama Papamu datang dengan penuh kebahagian, Nenek
punya harapan besar bahwa penikahan itu sudah mulai tumbuh benih-benih cinta.
Mereka datang mengabarkan bahwa Mamamu mengandung. Tak bisa digambarkan seperti
apa keahagian Nenek saat itu, ternyata doa Nenek terkabul dengan adanya kamu
dirumah tangga mereka.”
“tapi, itu tidak berlangsung lama. Setelah kamu lahir mereka sepeti
biasa berdebat, satu sama lain merasa orang asing. Nenek juga bingung bagaimana
mungkin mereka satu sama lain bersikap dingin selama satu tahun lebih berjalan.
Mereka rupanya tidak pernah membangun kemistri satu sama lain, dan alasan
lainnya Nenek tidak pernah mengetahui apa.”
“Mamamu, selalu menjawab. Kami berpisah secara baik-baik.”
“malam itupun petaka datang, mereka memutuskan untuk bercerai dan
hak asuh anak ada pada Mamamu, karena saat itu kamu masih berusia tiga bulan.”
“Aliya, dalam hidup ini bukan seperti negri dongeng, ataupun
pernikahan yang terdapat dicerita-cerita yang Mamamu ceritakan ketika kamu
kecil, pernikahan itu seperti balok yang disusun-susun setinggi mungkin,
semakin tinggi balok itu, maka akan semakin besar pula cobaan itu datang, tapi
akan semakin indah dilihat. Semua punya resiko. Semua punya tanggung jawab
masing-masing sejauh mana kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita
lakukakan, agar dimasa mendatang nanti tidak pernah lagi kejadian.”
“Aliya, Mamamu bukan tidak sayang sama kamu, dia hanya ingin
membuat kamu bahagia. dia kerja supaya masa depan kamu terjamin, menjadi
seorang ibu itu berat sekali. Apalagi hidup sendiri, Nenek tahu terkadang
Mamamu merasa kesepian, meskipun dikantornya banyak teman yang bisa menghibur,
tapi diluar itu semua sebenarnya Mama kamu merasa tak punya siapa-siapa selain
kamu, Nenek dan juga kakek. Kamu dilahirkan bukan untuk menyerah sama keadaan,
kamu dilahirkan untk bisa melawan tatapan dunia. Selagi kamu mampu
menaklukkannya, maka dunia pun akan takluk dihadapan mu.”
“sekarang, sudah ya. Jangan lagi bahas kenapa Mama sama Papa kamu
berpisah.”
Aku mengangguk,
berharap rasa penasaranku, tidak lagi muncul. Dan bertanya yang bukan-bukan.
Selama ini penilianku tentang Mama salah besar, justru Mama kerja buat
kebahagian aku, dan akau sebagai anak mengeluh tanpa melihat dibalik itu semua.
Maaf ma, aku sayang Mama…
Aku hari ini
berjanji tidak lagi bertanya-tanya kenapa Mama Papa pisah. Aku tidak tahu jika
pertanyaan-pertanyaan itu menyitkan sekali buat Mama…
I LOVE U…
MA, PA….
Aku bahagia, masih
mempunyai segalanya. Kita sebagai manusia, selalu ada mempunyai kelebihan dan
juga kekurangan.
Aku tahu ini berat, tapi takdir sudah menunggu. Aku tak akan lagi
mempermasalahkan, apa alasan ku untuk hidup didunia ini. Toh, semuanya sudah
tersusun rapi, tinggal bagaimana aku menyikapinya dengan hati lapang …
Tanjung Rema
Jum’at, 25 maret 2016.

Komentar
Posting Komentar
💐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. 😊💚