live in another dimension, and it is my story.
Aku
kecewa dengan diriku sendiri, apa yang aku inginkan ternyata tidak sesuai
dengan kenyataan, aku tidak bisa menerima dan benar-benar tak terima dengan
semua ini.
Siang
itu seharusnya momen bahagia yang aku tunggu-tunggu selama ini, tapi takdir tak
pernah mempertemukan ku dengannya. Mungkin aku harus menerima semuanya. Menerima
sakit hati, menerima semua mimpi-mimpi busuk yang aku bangun bertahun-tahun
lenyap begitu saja. Jika waktu itu seperti sistem undo dalam computer,
maka aku akan mengembalikannya. Dan berharap tidak akan pernah ingin mengenal
sosok lelaki brengsek itu dalam hidup ku. Ah, lagi-lagi itu hanya mau ku
saja. Toh pada kenyataannya sangat bertolak belakang apa yang aku inginkan.
Setiap
kali ingin melupakannya, maka wajah-wajah penuh dosa bagai iblis datang
begitu saja, memutar kembali kemasa lalu. Mengingat apa yang pernah dilakukan
bersama. Amboi, luar biasa sakit, mengingat kenangan-kenangan itu.
Sebelum
membencinya, dan sebelum juga kebencian itu menjadi dendam biarlah yang lalu
berlalu begitu saja. Biarkan dia bahagia bersama pilihan dalam hidupnya,
bukankah aku dulu juga pernah bahagia, dan sekarang apa yang harus diratapi,
jika dia yang terbaik untuk ku, selalu saja dia memperlakukan ku dengan baik,
tapi tak perlu dia, yang aku sayangi itu
untuk minta kembali. Karena bahagia dalam mencintainya justru bukan dengan cara
memiliki dan hidup bersamanya. Bukan itu.
Dia,
Ahmad.
Bukan
pacar, apalagi tunangan. Bukan.
Ahmad
hanya sesosok laki-laki yang baik, tapi kebaikannya membuatku justru salah
mengartiakannya. Ingat kata-kata seperti ini “setiap perempuan yang baik hanya
untuk laki-laki yang baik” ah, rupanya aku bukan termasuk perempuan yang
baik-baik.
Hei, tapi apa salahnya jika aku ingin mencoba
menjadi pribadi yang lebih baik lagi, bukankah itu salah. Bukankah itu kabar
baik, bahwa apa yang dulu pernah aku lakukan memang salah. Tapi sekarang. Aku ingin
memperbaikinya.
Terus apa yang membuat ahmad meninggalkan
ku dengan janji-janji yang begitu manis?. Apa iya aku salah jika berpikir bahwa
kelak aku akan menjadi…
Ah, sudahlah. Rupanya keinginan itu
masih kuat. Terus berharap yang ternyata kosong. Membuat waktu begitu tak
berharga, bukan tanpanya tapi justru karena terus-menerus memikirkannya.
Bersambung…..

Komentar
Posting Komentar
💐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. 😊💚