CATATAN ANAK KAMPUS Part 2

Seperti minggu lalu saya sudah mempublikasikan CATATAN ANAK KAMPUS Part 1, sekarang kita kembali lagi untuk membicarakan hal-hal yang selama ini kita tidak menyadarinya, dan itu sering terulang dalam kehidupan kita sebagai anak kampus, wow..anak kampus. Kita akan merasa bangga jika nama kita selalu disandang dengan kata mahasiswa atau anak kampus, kedengarannya keren. Bahkan terkadang kita dianggap orang mempunya wawasan yang luas, namanya juga mahasiswa ya otomatis bukan kata siswa lagi yang kita emban sekarang.

Tapi kali ini saya tidak membahas masalah yang diatas, saya akan membahas kehidupan yang benar-benar bersangukatan dengan yang kita alami sehari-hari dikehidupan kampus, salah satunya di dalam kelas.

Setiap mahasiswa pasti sudah tidak asing lagi mendengar yang namanya diskusi ataupun presentasi. Bahkan dari awal kita menjadi mahsiswa kita sudah diarahkan bagaimana cara agar kita bisa untuk maju kedepan mempresentasikan makalah yang telah kita buat, tentu saja dengan arahan dosen pembimbing yang bersangkutan dengan mata kuliah tersebut.

Tahukan kalian kawan…

Banyak cerita lucu yang terjadi dalam hidup kita, tapi kita sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut. kita terlalu sibuk sama dunia kita sendiri sehinga lupa untuk mengingatnya.

Kalian sadar gak sih…

Kalau kita sudah berada dalam kelas dan acara diskusi dimulai kita akan semangat, tapi dipertengahan kita sering tidak memperhatikan lagi apa-apa saja yang dilakukan oleh para pemakalah yang menyajikan bahan untuk didiskusikan. Alasannya sederhana, karena tidak menarik hati kita utunk lebih mendalami atau mennyimak lebih mendetail lagi. ada bebrapa factor yang menghambat kita sudah tidak berminat lagi memperhatikan;

1.      Cara pemateri membawakannya tidak semangat, itu sebenarnya alasan klasik sekali. Karena bisa jadi kita sama sekali tidak memahami mata kuliah itu, atau dari awal belajar kita sama sekali tidak paham.

2.       Kita terlanjur ogah untuk masuk kuliah. Jadi bawaannya ya bête gitu deh.

Benarkan…

ya mungkin ini salah satu dari beberapa orang yang mengalaminya, ya termasuk saya sendiri juga bisa seperti itu.

Bahkan yang presentasi orangnya susah banget untuk bicara, tapi giliran gak presentasi aja nyerocosnya minta ampun, orang seperti ini aneh banget.

Giliran sesi Tanya jawab, bakalan ada yang namanya mickrofon bergilir, diskusi didalam diskusi bagi pematerinya, ingin menjawab takut salah takut ada yang membahas, seharusnya gak apa-apa, dijawab aja. Ya kalau orang ada yang gak setuju itu wajar, namanya juga belajar gak semua orang sesuai apa yang ditanyakan itu yang dikehendaki jawabannya, karena selain kita kurang menguasai, kita juga suka malu-malu utnk mengemukaknnya.

Tapi kita selalu dituntut untuk bisa apapun alasannya, dan orang yang sering menuntut seperti ini juga gak selalu bisa,  tapi bagi kalian yang menemumakan orang seperti itu tidak usah dimasukin dalam hati. Nanti yang ada malah sakit hati lagi, tapi ada juga baiknya, kita berusaha semaksimal mungkin agar kita jangan lagi untuk dituntut seperti itu, lama-lama kita juga bakalan bosan. Supaya gak bosan mendengar orang berbicara seperti itu, ya buktikan saja. Gampangkan…

Bilangnya memang gampang ya, tapi pada kenyataanya gak segampang itu. Iya, iya deh saya minta maaf saya juga pernah merasakan seperti itu, tapi saya mencoba untuk membuktikan bahwa saya pun bisa untuk berbicara, akhirnya lama-kelamaan saya bisa, meskipun tidak sepenuhnya.

Tapi saya heran, kalau perempuan kan wajar malu-malu, tapi kalau laki-laki malu untuk bicara, aneh aja. Masa iya laki-laki harus malu. Tapi, mungkin ini masalah psikologis kita tentang sebuah kepedeaan. Gak semua orang bisa untuk menerapkan kepedeaannya, gak semua orang dikasih lancar untuk bicara dihadapan orang banyak, tapi bisa kok uuntuk dilatih, bisa untuk dipelajari. Sebenarnya hanya satu saja yang kita takut, karena kita tidak bisa melawan ketakutan itu sendiri, kalau aja kita bisa untuk melawan pasti sekarang kita mudah banget untuk bicara apa yang ada dipikiran kita.

Bagi mereka yang sudah terbiasa tak ada hambatan, tapi bagi mereka yang mulai untuk menyusun kata perkata demi sebuah kalimat pasti susahnya minta ampun. Tapi itu tidak apa-apa. Asalkan ada niat untuk bisa itu sudah luar biasa. Semua orang awalnya juga seperti itu, tapi mereka mampu melawan.

Nah, masihkan kita berdiam diri didepan seperti patung yang bernyawa menatap mata para audience, berharap mereka kalau kita bicara tidak mendengar.

Coba deh untuk memulai, kalau kita seperti itu gak ada perubahan buat apa kuliah?

Pikirkan baik-baik masalah ini.


#TanjungRema
13 April 201
#BigiGatah

#Salam, anak kampus 

Komentar

Postingan Populer