Insfirasi Anak Timur

Kangen Anak Timur
Abdur Arsyad gak bedajauh sama Abdurrrahman

“aduh mama sayange.”.

Ada yang ingat dengan logat ini, sebagian mungkin ada yang ingat dan sebagian lagi bahkan ada yang tidak tahu apa itu “aduh mama sayange.” Jangankan kalimat itu, bahkan orang yang sering bilang kalimat seperti itu saja tidak tahu, siapa sih orangnya?

Baik, nanti akan saya bahas siapa itu “aduh mama sayange.”
Itu adalah salah satu kalimat yang ada di daerah bagian timur Indonesia, tepatnya antara NTB, NTT atau Papua. Biasanya kalau dibagian timur itu bahasanya menggunakan ‘beta’, beta kalau dibahsakan Indonesia maka akan menjadi ‘saya’.

Saya kembali terkenang sama seseorang yang saya kagumi, tapi disini bukan artian ‘mencintai’ tapi disini hanya sebatas antar teman. Dia ini berasal dari NTT atau NTB, tepatnya saya lupa, dulu pernah satu kampus dan satu lokal dengan saya, tapi diakhir semester pertama dia memutuskan untuk pindah kuliah. Kameren saya juga lupa apa alasannya pindah. Dan kemaren tanggal 12 April 2016. Dia bersilaturrahmi ke Banjarmasin. Wah jujur senang banget.

Namanya Abdurrahman, orangnya pintar, cerdas, rame dan juga punya humor tinggi, terbukti setiap kali ada Abdur suasana ruangan akan selalu ramai dengan candaan dia, bukan dia aja yang bercanda teman yang lainnya juga, tapi dia yang bikin suasana gaduh saat jam mata kulaih dimulai. Jenius…
Habis pulang kuliah saya sempat ngobrol sama Abdur, katanya sekarang dia Kuliah di Jakarta dan menetap di Bogor sabil mondok dipesantren. Keren…

Eiittsss, tapi ini bukan Abdur yang komika itu lho, ini Abdur yang berbeda. Tapi, karakter seorang yang saya ceritakan tidak jauh berbeda dengan Abdur komika itu. Sama jenius, sama-sama saya kagumi karena kehebatannya. Dia ini kritis banget sama hal-hal yang terkadang kita tidak pernah mikir sampai kesana. Dia sudah duluan sampai memikirkannya, kadang saya sama teman-teman yang lain “oh iya ya dia benar.” Pasti begitu. Makanya saya suka banget dengan gaya serta cara dia berpendapat atau menyampaikan sesuatu.

Sayang banget ya, kenapa dia gak sampai lulus buat kuliah di STAID?

Dia sempat bilang, kalau dia sebenarnya juga nyesal kenapa memutuskan untuk berhenti atau pindah kuliah? Dia gak pikir panjang…atau juga ada sesuatu yang mengharusnya tidak lagi kuliah di STAID.
Luar biasa kamu Dur, (panggilan akrab Adbur), usia semuda itu kamu udah beberapa daerah yang kamu singgahi untuk menetap, pasti pengalaman kamu banyak banget.

Dulu bahkan sekarang saya punya impian ingin banget bisa jalan-jalan ke bagian timur wilayah Indonesia, bahkan impian saat ini tentang itu belum terwujud, semoga harapan itu akan terlaksana. Aneh juga sih, kenapa saya berpikiran seperti itu. Tapi Jakarta tak menarik hati saya untuk dijelajahi, bukan tak menarik tapi keinginan saya untuk bisa jalan-jalan kebagia timur wilayah Indonesia mengalahkan keingian saya untuk jalan-jalan menelusuri Jakarta, kenapa saya bilang begitu. Karena saya sudah sering melihat bagaimana Jakarta itu.

Jakarta yang saya lihat sekarang, beda dengan apa yang dulu saya pikir.

Jadi, rasa penasaran saya akan Jakarta tak begitu besar.

Abdur, semangat.

Dan sayapun juga semangat…

Kehadiran kamu ditengah-tengah kita di kampus tadi, sudah tercapai rasa rindu, kangen dan rasa yang tidak bisa di ungkapkan. Kami senang banget. Kalau bisa sering-sering ya, ke kampus buat silaturrahmi. Kami gak ada kok yang melupakan kamu Dur, meskipun kamu gak ada, terkadang, ini jujur lo masih ada aja yang menyebut-nyebut nama kamu, mengingat hal-hal yang absurd yang pernah kamu lakukan di kelas.

Abdurramhan dan Juga Abdur Arsyad…

 Kalian telah membuat saya terinsfirasi, membaut saya mempunyai komitmen yang tinggi untuk tetap semangat mengejar cita-cita, kita sama terlahir sebagai anak bangsa di pedalam pelosok negri bahkan kampung halaman kita tidak pernah terexpos.

Saya bangga, menjadi anak bangsa Indonesia.

Kekayaan alamnya yang luar biasa tak mampu membuat saya untuk berpindah kewarganegaraan.

#InsfirasiAnakTimur
Love,
BigiGatah



Komentar

Postingan Populer