Cerita dan Derita

minyak tanah mengalami kelangkaan di Martapura.
            Minyak tanah habis…

            Bagi mereka yang menggunakan kompor gas tidak ada keberatan minyak tanah habis ataupun tidak ada sama sekali, tapi bagaimana dengan anak asrama, minyak tanah habis gak bisa masak, gak bisa makan itu berarti harus siap 1x24 jam untuk menahan lapar.

            Kalau kita makan diluaran itu biayanya mahal, satu kali makan saja sampai 10rb sedang kita perlu makan dalam sehari 3x. tuh kan berapa keluar duit kalau beberapa hari tidak masak sendiri. Meskipun minyak tanah mahal dan non subsidi tapikan kalau kita beli 1L itu bisa sampai bertahan satu minggu dengan masak super hemat, abis masak goreng ikan, jadi deh dan siap untuk dimakan. Maklumlah anak asrama harus bisa mengelola keuangan apalagi bagi yang jauh sama tempat tinggal. So, bisa-bisa menghemat sendiri saja kalau tidak bisa hemat. Maka akan sering bokek, dan itu aku sering mengalaminya. Kasiankan. Hiks. Hiks. Hiks.

            Diasrama ini, setelah melakukan survey kebeberapa teman, dan aku menyimpulkan hasil survey bahwa aku yang paling sedikit dikasih orang tua dalam sebulan. Kalian tahu berapa aku dikasih orang tua dalam sebulan, kurang lebih 300rb doang. Bayangkan kalau sekarang serba mahal, uang segitu terkadang tidak cukkup buat sebulan, belum sampai sebulan itu uang sudah abis, bahkan semingggu sebelum dijenguk. Kalau sudah begitu mah, tinggal gigit jari. Aku orangnya jarang ngutang, ya kalau lapar ditanggung sendiri. Bahkan aku pernah tidak makan tiga hari karena males untuk ngutang. Alasannya, temen aku juga gak punya uang. Tapi itu udah biasa.

            Aku mikir gini…

          Aku lapar, iya. Tapi masih bisa tingggal ditempat yang layak, masih bisa untuk kuliah, masih ada orang-orang yang bisa ketawa bareng, masih ada teman-teman yang baik yang bisa menghibur dikala kita meresa bête (factor kehabisan uang betenya). Dan juga ada orang tua yang sayang sama aku, karena sejauh ini mampu untuk mengkuliahkan anak-anaknya. Coba kita lihat dikota-kota besar ataupun didesa-desa terpencil banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan lebih tinggi, tempat tinggal yang enak, tapi mereka mensyukuri, mereka tidak mengeluh sama keadaan, masa iya aku yang lebih enak menguluh, hidup kalau terus mengeluh yang jadi beban kita sendiri. Udah gak punya uang masa bawaannya galau terus, ya janganlah. Tetap semangat. Gak punya uang bukan berarti gak punya teman kan.

            Kenapa nulisnya curhat gini ya.

            Gara-gara habis minyak tanah nih, bawaannya baper gini.

            Coba aja kalau kita semua memakai kompor gas, pasti gak sampai selapar ini, pasti sekarang sudah bisa masak. Lapar…

            Bapak Jokowi tau gak ya kalau disini (asrama) kita sedang kehabisan minyak tanah, sedang gak bisa masak dan hanya bisa menahan lapar, ditempat-tempat lain juga sama, minyak tanah juga mengalami kehabisan.

            Ada beberapa pertanyaan, yang saat ini pengen banget aku ajukan sama ibu asrama, mengenai masalah kenapa beliau tidak mengizinkan pakai kompor gas?

            Tapi, pertanyaan itu masih aku simpan, karena takut. Alasannya…

            Takut ibu asrama marah, takut beliau…takut apa ya lagi? I don’t know.

            Banyak deh alasan yang menghambat pertanyaan itu tidak terlaksana. Ya, berhubung aku masih baru, jadi cukup mengikuti prosedur yang sudah ada saja. Yang lebih senior dari aku aja gak berani, masa iya aku yang masih baru sudah menuntuut  ini itu, kan gak etis aja. Lagian ibu asrama sedikit suka sensi, ya mungkin bawaan factor karena beliau sudah tua (sorry, karena memang begitu kenyataan yang ada, gak mungkin kan aku bilang beliau muda, itu namanya menyalahi fakta yang sudah ada. Sorry)

            Oke, aku akan mengakhiri tulisan ini.

            Yaps, tolong kalau Bapak jokowi nemu tulisan ini bisa untuk dikonfirmasi atau bisa mengirim minyak tanah kesini karena persedian sudah habis. Jangan kirim masalah rakyat karena itu bukan urusan kami, kami butuh minyak tanah buat masak agar bisa makan, bukan butuh masalah untuk diselesaikan.

            Tolong pak, tolong banget..

            Oke, oke. Aku bakalan mengakhiri tulisan ini, karena semakin lapar, maka akan semakin gak nyambung, tulisannya kemana-mana.

Iya, iya ah. Ini juga mau udahan nulis.

Jangan menatap aku seperti itu dong, iya ini sudah selasai.

Iya selesai..

           Ribet amat sih.

Iya inih selesai.

          Udah, udah puas…

           Plakkkkkk…….(anjrit lo)


TanjungRema
12 April 2016
#SalamPakJokowi
#BigiGatah


            

Komentar

Postingan Populer