DI KAMPUNG KAMI...


Dikampung kami, setiap anak perempuan yang sudah melebihi usia 17 tahun kalau tidak menikah dianggap seperti perawan tua yang tidak laku-laku. Apapun alasan yang kita ajukan tetap saja sulit untuk diterima. Di kampung kami, tidak ingin tahu apakah dia masih sekolah, apakah dia bekerja yang terpenting kalau sudah mencapai usia 17 tahun harus menikah. Titik. Kasihan  kalau ternyata anggapan mereka itu ada pada diri saya dan orang-orang yang juga senasib sama saya. Mereka tidak mau peduli sedikitpun. Padahal, itu adalah hal yang terlalu pribadi untuk dipertanyakan.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Menurut anggapan orang-orang dikampung kami pula, pendidikan tinggi bagi perempuann tidaklah terlalu penting. Yang terpenting itu adalah menikah membangung keluarga. Karena buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi pada akhirnya nanti akan pergi kedapur juga. Itu anggapan paling gak masuk akal!
Jangankan orang kampung kami. Dalam keluarga saya sendiripun menikah diusia dewasa itu semacam punya aib dan tidak menjadi kebanggan lagi. Padahalkan seharusnya, dari kesiapan aspek yang menyangkut hubungan keluarga memang harus dewasa.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Melihat kenyataan yang ada, anggapan orang-orang tentang itu semua dan keluarga rasanya hati makin miris. Mau menangis, tapi apanya yang meski ditangisi. Bahagia karena jomblo terlalu lama. Bahagia karena sekarang sudah kuliah dan tidak lagi menjadi perempuan yang hanya matut-matut pada laki-laki. Atau, bahagia memang selama ini belum ada yang cocok?
Yah.
Kita harus bahagia, tepatnya berpura-pura kelihatan bahagia. Agar orang melihat kita tidak memberi penilaian yang negative. Tentang perempuan yang sudah dewasa tapi sampai sekarang masih betah sendiri dan apa-apa melakukan dengan sendiri.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Pernah punya cinta, tapi ternyata cinta dalam kehidupan nyata tidaklah sebahagia yang ada disenetron ataupun buku-buku dongeng yang sering saya saksikan dan baca. Ternyata kisah cinta dikehidupan nyata itu terlalu menyakitkan. Yah! Terlalu menyakitkan untuk diungkap kembali. Kita memang harus berdamai dengan diri sendiri, membuka mata mau menerima kenyataan yang ada bahwa itulah pilihan dari kisah cinta yang kita pilih sendiri.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Sudah sering saya menulis dan kenangan-kenangan itu seharusnya tidak lagi diungkap tapi, saya terlalu mencintai sosok itu. Sosok laki-laki biasa yang tidak mudah untuk dilupakan.  Meskipun sekarang dia sudah menjadi seorang suami dan ayah bagi orang lain. ini sangat keliru. Bahkan terlalu keliru untuk saya.
Saya terlalu menutup diri untuk ngaca, melihat diri sendiri, apa pantes saya melakukan itu?, melakukan kekeliruan yang amat bodoh.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
Tuhan,,,
Kenapa sosok itu pernah hadir dalam hidup saya? toh pada akhirnya dia bukan menjadi milik saya. Justru membuat saya sakit. Justru membuat saya teralalu jauh membuat kesalahan. Bertahun-tahun saya berharap, akhirnya saya harus menelan pil pahit bahwa dia bukan jodoh saya. Dia bukan belahan hati saya. Dia hanya mampir sebentar lalu tiba-tiba menghilang dipelukan orang lain.
Sudahlah, kita mati sekelipun dia juga belum tentu peduli.
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Komentar

Postingan Populer