PINTU

HANYA SEBUAH PINTU
KENAPA SAYA HARUS MEMBENCINYA.

Pintu.
Saya tidak menyukainya.
Hanya sebuah pintu, kenapa harus dibenci? Bukankah pintu tidak bersalah? Bukankah  pintu hanya sebuah benda? Lalu apa alasan saya membencinya?.
***
Dulu, saya punya pintu yang sangat menyebalkan sekali. Disebabkan karena bunyinya yang keras dan tidak mau bersahabat dengan siapapun kecuali saya. Sampai sekarangpun, pintulah benda yang tidak saya sukai. Bahkan pintu membuat saya malu yang amat tidak terkira. Kejadian masa lampau.
***
Buat apa kita punya rumah megah nan mewah kalau tidak ada pintunya. Bahkan gubuk roet sekalipun tidak ingin tanpa pintu. Pintu itu pembatas anatara dunia luar dan dunia didalam rumah. Kalau tidak ada  pintunya berarti sama saja bukan rumah.
***
Buat apa saya menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan sebuah pintu. Bukankan hidup terlalu berharga untuk memikirkan hal-hal yang lebih positive daripada membahas pintu itu sendiri. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada diri saya.
Errggghhh.....
***
Tahukan kamu hah,,,
Gara-gara pintu kadang tidur saya terganggu, gara-gara pintu mimpi indah saya menjadi buyar. Gara-gara pintu orang lagi marah. keras sekali membantingnya. Dan saya benci itu semua. Saya benci. Benciiiii..... Tak tahukah kamu. Kenapa? Tidak bisakah kamu membuka pintu secara lembut agar orang lain tidak terganggu. Tidak punya perasaankah kamu tentang pintu atau setidaknya bagaimana cara menghormati orang lain. Pintu memang sederhana, tapi kalau kamu dihadapkan sama orang yang tidak menyukainya itu artinya kamu harus berhadapan dengan orang yang akan membenci kamu. Hahh....
Seharusnya kamu tahu itu, bukankah kamu orang yang mengerti tentang adab. Kenapa masalah pintu kamu tidak bisa menjaga adabnya. Perlu kamu ketahui, hahhhh....saya benci pintu. Amat. Ingat itu. Hahhhh..eerrgghh...
Buat apa punya banyak kitab kalau kamu tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Buat apa?. Lalu apa gunanya kamu berlajar bertahun-tahun hahh...kalau masalah adab saja kamu menyepelekannya. Bukankah sudah jelas bahwa adab itu lebih utama. Lalu apa masalahnya. Kamu yang tidak menyukai saya, kamu yang diam-diam ingin membuat saya tidak betah disini. Hahhhh....
***
Itu kenapa saya benci pintu, itu juga kenapa saya membenci oran-orang yang menutup ataupun membuka pintu sangat keras. Dulu selagi sekolah saya berdoa semoga nanti saya tidak mempunya pintu yang sama waktu sekolah dulu. Dan ternyata memang benar, tidak sama. Tapi sama saja bunyinya luar biasa keras. Saya tidak suka...hikss,,hikss,,hikss,,!
***
Kasian sekali keadaan saya. Apa yang tidak saya sukai orang lain tidak tahu. Malah saya menjadi orang pembenci hanya sekedar pintu yang agak kurang bersahabat sedikit sama saya.  Pintu oh pintu. Kenapa setiap hari kamu membuat saya geram. Membuat orang yang tidak tahu apa-apa juga ikut saya benci padahal sebenarnya saya tidak sekejam dan sejahat itu. Tapi masalah pintu saya memang benar-benar sensitif. Kalau menyangkut hal-hal yang tidak saya sukai saya amat sensitif. SENSITIF SEKALI. Bahkan saya mau menangis...hikss,,hikss,,hikss,,.
Tuhan..

Egois sekalikah saya?. Ataukah saya yang selama ini tidak mempunyai hati yang lembut sehingga mudah sekali menjadi orang yang pendendam hanya sebuah benda yang bernama PINTU.

Komentar

Postingan Populer