GALAU, MAU SEPERTI APA MASA DEPAN?
![]() |
| siapa sangka menjadi guru itu sulit? siapa sangka puula menjadi guru itu mudah? |
Semakin
mendekati semester enam akhir, saya semakin takut untuk lulus. Dan, pada
akhirnya harus menjadi seorang guru. Saya sadar, setiap kali saya tampil di depan
teman-teman untuk mengajar, saya selalu canggung, bingung harus berbicara apa?
bingung harus menyuruh teman-teman saya melakukan apa?, pada akhirnya, setiap
kali maju kedepan hanya kebingungan yang saya dapatkan. Benar-benar buruk
penampilan saya setiap kali maju .
Pertemuan
pertama sampai pada pertemuan ketiga, hanya sedikit sekali peningkatan yang
saya lakukan, hasilnya, saya tetap saja masih kaku menyapa ataupun menyampaikan
materi. Padahal, sebelum saya maju, saya sudah sehari semalam untuk berlatih,
pada hari H nya tetap saja, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Saya malas
untuk menjadi seorang guru. Bagaimana menjadi seorang guru, kalau saya sendiri
saja masih dibawah rata-rata dalam hal mengajarnya, jauh sekali tertinggal dari
teman-teman yang lain.
Teman-teman
saya satu kelompok semakin hari, semakin menampakkan kemajuan yang sangat
pesat, sedangkan saya. Seperti biasa. “perlu ditingkatkan lagi mengajarnya.”
Itu komentar yang harus saya terima dari dosen pembimbing.
Selama
ini saya salah mengira sama mereka yang nonsarjana dalam hal mengajar, saya
terlalu membanggakan diri, merasa diri paling baik. merasa diri paling bisa
segalanya, padahal pada kenyataannya, justru sayalah yang paling tidak memahami
betul cara mengajar yang tapat dan sesuai dengan keadaan sekarang. Terlalu
klise penilian saya selama ini. apa yang saya anggap mudah dulunya, ternyata
tidak sebegitu mudah dalam melaksanakannya. Karena pada waktu itu, saya masih
belum berada diposisi yang saya rasakan sekarang.
Jadi pertanyaannya
adalah. Apakah saya masih ingin bercita-cita untuk
menjadi seorang guru? Entahlah?
![]() |
| mendidikan berarti mencerdaskan bangsa. |
Ada
banyak kekecewaan nantinya, apabila saya tidak mengamalkan apa yang saya
pelajari selama ini. orang tua, tentu saja. kalau tahu saya tidak semangat
menjadi seorang guru, pastilah mereka sangat kecewa, bukankah selama ini
perjuangan mereka sungguh luar biasa dalam hal mencarikan nafkah, mendoakan tiada
henti, selalu memotivasi untuk semangat dalam belajar, lalu, begitu saya sudah
berada diakhir. Saya bilang dengan begitu mudahnya “Ayah Ibu, saya tidak bisa
menjadi seorang guru, seperti yang Ayah Ibu harapkan.” Apa mereka tidak keceawa
mendengar pernyataan tersebut. Anak macam apa saya, sampai tega bilang begitu,
sampai tega membuat perjuangan mereka sia-sia. Kalau dari awal saya tidak ingin
menjadi guru, tentu mereka tidak akan pernah membiayai hidup saya sampai sejauh
ini. toh, pada kenyataanya saya memang tidak berbakat sama sekali menjadi guru.
Dari
awal, saya memang bukan anak yang berprestasi, seperti saudara-saudara saya
yang lain. tapi, saya tetap ngotot untuk melanjutkan study ketingkat yang labih
tinggi.
Beginilah adanya saya. Baru saja babak baru dimulai dalam hidup, saya sudah
putus asa, sudah menulis bahwa saya tidak bisa menjadi seorang guru, perjuangan
saja belum di mulai sudah menyerah duluan. PAYAH.
Padahal, ketika saya bercerita dengan teman sebangku saya. Dia menyarankan
agar saya jangan putus semangat hanya karena saya belum maksimal dalam
mengajar. inikan baru percobaan, namanya percobaan wajar gagal, namanya baru
memulai merangkak wajar salah, kita jangan meremehkan filosofi sederhana dari
seorang bayi yang baru bisa berjalan. Meraka jatuh bangkit lagi, jatuh lagi
bangkit lagi sampai seterusnya. Sampai mereka benar-benar bisa berjalan dengan
utuh. Mereka tetap semangat untuk tetap berjuang. Seharusnya, semakin kita
dewasa semangat untuk mencoba jangan pernah padam. Jangan pernah sekali-kali.
Bahkan Tuhanpun, di dalam kitab suci sudah menyebutkan, “setiap kesulitan pasti
ada kemudahan.”
“siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil.”



Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐