GALAU, MAU SEPERTI APA MASA DEPAN?

siapa sangka menjadi guru itu sulit? siapa sangka puula menjadi guru itu mudah?
Semakin mendekati semester enam akhir, saya semakin takut untuk lulus. Dan, pada akhirnya harus menjadi seorang guru. Saya sadar, setiap kali saya tampil di depan teman-teman untuk mengajar, saya selalu canggung, bingung harus berbicara apa? bingung harus menyuruh teman-teman saya melakukan apa?, pada akhirnya, setiap kali maju kedepan hanya kebingungan yang saya dapatkan. Benar-benar buruk penampilan saya setiap kali maju .
Pertemuan pertama sampai pada pertemuan ketiga, hanya sedikit sekali peningkatan yang saya lakukan, hasilnya, saya tetap saja masih kaku menyapa ataupun menyampaikan materi. Padahal, sebelum saya maju, saya sudah sehari semalam untuk berlatih, pada hari H nya tetap saja, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Saya malas untuk menjadi seorang guru. Bagaimana menjadi seorang guru, kalau saya sendiri saja masih dibawah rata-rata dalam hal mengajarnya, jauh sekali tertinggal dari teman-teman yang lain.
Teman-teman saya satu kelompok semakin hari, semakin menampakkan kemajuan yang sangat pesat, sedangkan saya. Seperti biasa. “perlu ditingkatkan lagi mengajarnya.” Itu komentar yang harus saya terima dari dosen pembimbing.
Selama ini saya salah mengira sama mereka yang nonsarjana dalam hal mengajar, saya terlalu membanggakan diri, merasa diri paling baik. merasa diri paling bisa segalanya, padahal pada kenyataannya, justru sayalah yang paling tidak memahami betul cara mengajar yang tapat dan sesuai dengan keadaan sekarang. Terlalu klise penilian saya selama ini. apa yang saya anggap mudah dulunya, ternyata tidak sebegitu mudah dalam melaksanakannya. Karena pada waktu itu, saya masih belum berada diposisi yang saya rasakan sekarang.
Jadi pertanyaannya adalah. Apakah saya masih ingin bercita-cita untuk menjadi seorang guru?  Entahlah?
mendidikan berarti mencerdaskan bangsa.
Ada banyak kekecewaan nantinya, apabila saya tidak mengamalkan apa yang saya pelajari selama ini. orang tua, tentu saja. kalau tahu saya tidak semangat menjadi seorang guru, pastilah mereka sangat kecewa, bukankah selama ini perjuangan mereka sungguh luar biasa dalam hal mencarikan nafkah, mendoakan tiada henti, selalu memotivasi untuk semangat dalam belajar, lalu, begitu saya sudah berada diakhir. Saya bilang dengan begitu mudahnya “Ayah Ibu, saya tidak bisa menjadi seorang guru, seperti yang Ayah Ibu harapkan.” Apa mereka tidak keceawa mendengar pernyataan tersebut. Anak macam apa saya, sampai tega bilang begitu, sampai tega membuat perjuangan mereka sia-sia. Kalau dari awal saya tidak ingin menjadi guru, tentu mereka tidak akan pernah membiayai hidup saya sampai sejauh ini. toh, pada kenyataanya saya memang tidak berbakat sama sekali menjadi guru.
Dari awal, saya memang bukan anak yang berprestasi, seperti saudara-saudara saya yang lain. tapi, saya tetap ngotot untuk melanjutkan study ketingkat yang labih tinggi.
Beginilah adanya saya. Baru saja babak baru dimulai dalam hidup, saya sudah putus asa, sudah menulis bahwa saya tidak bisa menjadi seorang guru, perjuangan saja belum di mulai sudah menyerah duluan. PAYAH.
Padahal, ketika saya bercerita dengan teman sebangku saya. Dia menyarankan agar saya jangan putus semangat hanya karena saya belum maksimal dalam mengajar. inikan baru percobaan, namanya percobaan wajar gagal, namanya baru memulai merangkak wajar salah, kita jangan meremehkan filosofi sederhana dari seorang bayi yang baru bisa berjalan. Meraka jatuh bangkit lagi, jatuh lagi bangkit lagi sampai seterusnya. Sampai mereka benar-benar bisa berjalan dengan utuh. Mereka tetap semangat untuk tetap berjuang. Seharusnya, semakin kita dewasa semangat untuk mencoba jangan pernah padam. Jangan pernah sekali-kali. Bahkan Tuhanpun, di dalam kitab suci sudah menyebutkan, “setiap kesulitan pasti ada kemudahan.”

“siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil.” 

Komentar

Postingan Populer