Berharap



aku sadar aku bukan siapa-siapa dia.
jadi, kalau dia mau pulang dari sini, kenapa dia harus bilang dulu ke aku. kan gak perlu juga.
tadi, aku berdoa berharap pada Tuhan agar dia menyapa ku, atau setidaknya, dia akan mengajak ku makan. ternyata, jangankan mengajak makan, menyapa yang nyata-nyata mudah saja tidak di lakukannya.
terus kenapa aku malah sensi gini.

berharap...
apa kata mereka tentang arti sebuah "pengharapan". KEKECEWAAN kan pada akhirnya.
dia barusan yang aku tulis ini, senior ku di kampus. dia ber'intelektual' tinggi. ya jelas aja, mana mau dia mengajak ku makan atau hanya mengobrol sejenak.

rasanya sakit ya, ketika senang-senangnya berharap, justru tidak jadi kenyataan.
mau marah sama dia, dia saja gak peduli.
mau marah sama yang lain, sama siapa?
paling sasaran marah untuk diri sendiri.

aku sering banget berharap, berharap dan berharap.
kan, sekarang juga sudah tahu. akibat terlalu berharap malah menyebabkan sakit. tentu saja sakit hati.

beginilah, kalau berharap bukan pada Tuhan. 
janji manusia mana bisa di pegang, janji ini, janji itu, buktinya. bohong besarkan. 

laki-laki. makhluk monster sejenis buaya yang melata di darat. 
mangsanya, perempuan cantik, berduit dan aduhai.
kalian tahu sendirilah, sifat laki-laki macam singa saja. rebut sana, rebut sini. tak peduli, itu menyakitkan, tak peduli ternyata itu mengecewakan hati perempuan. enak sih, jadi laki-laki. 

perempuan, terus bagaimana perasaannya?

bukan aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan kodratkan untuk ku, tapi perasaan untuk 'iri' itu ada. namanya juga manusia, mana ada yang berhati seperti malaikat sungguhan. 










Komentar

Postingan Populer