Cinta Ibu Tidak Terhingga
4 hari lagi umur
ku bakal memasuki usia 22 tahun. 9 juni 2017 nanti.
Semakin
bertambahnya usia, seharusnya juga semakin membuat harapan hidup ku lebih baik.
Bukan, sebaliknya. Hidup seperti tidak punya arah dan tujuan yang jelas.
Kuliah, tapi malas belajar. Kerjanya hanya tiduran saja. Itu-itu saja.
Aku juga tidak mengerti kenapa dalam beberapa bulan terakhir ini harapan hidup
ku semakin tipis, semakin memburuk dan tak bersemangat lagi. Seadanya.
Malas pulang
kerumah. Terlalu sering menjadi beban orang tua. Padahal, Ayah dan Ibu ku sudah
mulai memasuki usia senja, tapi anak-anaknya masih saja menjadi tumpuan orang
tua. Kapan aku harus sadar dan beranjak dari tidur untuk menatap masa depan.
Diakhir usia 21
ini terlalu sering kesedihan merambat dalam hidupku, kesedihan yang tidak jelas
asal usulnya, begitupun dengan kesenangan yang aku rasa. Semuanya benar-benar
serba tak jelas.
Ada sesuatu yang
mengganjal dalam benak ku, dan menurutku puncak dari serba tak jelas ini
berawal dari sini.
Pernah ku ceritakan
pada tulisan bulan-bulan lalu, bahwa dikampung kami kalau anak perempuan
melewati batas usia 17 tahun belum
menikah maka dianggap seperti bujang lapuk (perempuan tak laku). Ibu ku
khawatir sekali tentang itu, sampai menyuruh ku melakukan ini dan itu. biar
jodoh ku lekas ketemu, biar aku tak terlalu jauh melampaui batas usia
dan anggapan orang-orang kampung tersebut. Sedih, tentu saja. Siapa yang tidak
sedih dianggap seperti itu, dianggap seperti punya aib besar dalam masyarakat.
Padahal, pacaranpun aku tidak. yang jelas-jelas melanggar syariat agama. Masa
iya!, hanya karena aku sudah memasuki usia untuk menikah tapi belum menikah lantas
sudah dikatakan seperti punya aib. Allah Karim. Maafkan aku!.
Aku sedih. Ibuku
jauh lebih sedih, lebih cemas dan sering mengkhawatirkan ku. Memang karena aku
anak perempuan itu sebabnya ibu bersikap lebih ketimbang adikku yang laki-laki.
Aku punya kakak perempuan, kesedihan ibu sudah tidak lagi bertambah, karena kakak
ku sudah menikah diusia muda dan sekarangpun sudah punya anak, dengan suami
yang juga sudah cukup mapan. Gambaran keluarga yang sempurna, bukan? Ibu
sangat bahagia melihat keluarga mereka. Coba tengok aku, pasti rona wajah ibu
berubah, bukan karena bahagia. Tapi, sepertinya ada banyak kata-kata yang tak
terucapkan yang ingin sekali ibu sampaikan. Mungkin, takut menyinggung perasaan
ku,
takut....
ah entahlah.
Diakhir bulan,
sebelum memasuki bulan puasa.
Dirumah kami,
bahkan saat itu subuhpun masih jauh untuk
mengumandangkan
azan. Di tengah-tengah dinginnya udara
pegunungan, bahkan ayam saja malas untuk membangunkan orang-orang.
Keluarga kami, ada Ayah, Ibu serta aku berkumpul diruang makan. Bercerita
tentang banyak hal, dan juga bercerita betapa rindunya mereka terhadap Atiqa,
keponakan ku.
Maka ditengah
pembicaraan kami, ibu mengatakan sesuatu dengan wajah sedih bahkan air mata
nyapun hampir menetes. “Aya, kameren ada tetangga bilang sama Ibu waktu di
kawinan si AZ, katanya, perempuan kalau telat menikah bisa kadaluwarsa, pasti
itunya gak enak lagi. Perempuan mah bisa sayup, kalau laki-laki tidak apa-apa,
telat menikah.” Dan masih banyak lagi pembicaraan ibu yang tidak kutulis
disini.
Bagaimana ibuku
tidak meneteskan airmata, saat anaknya di bilang seperti itu, menyakiti seorang
anak yang dilahirkan dari rahimnya, sama dengan menyakiti dirinya. Bahkan, jauh
lebih sakit ketimbang langsung menyakiti dirinya. Ibu khawatir sekali dengan
masalah ini. aku sangat terpukul, bukan karena orang tersebut secara tidak
langsung membicarakan ku, tapi
sedih melihat ibu sedih. Sedih, melihat anak perempuannya saat ini masih belum
menikah. Diakhir pembicaraan kami, ibu hanya bilang “kalau jodohnya belum
sampai, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”
Ibu juga selalu menasihati, agar aku selalu
menjadi pribadi yang baik, yang bermanfaat untuk keluarga, masyarakat dan juga
bangsa. Jangan pernah, meninggalkan yang diperintahkan agama, jangan pernah
melakukan yang melanggar syariat dan juga norma-norma dalam masyarakat. Jangan
membuat aib dalam kelaurga.
Hampi 22 tahun
ibu merawatku, dengan penuh cinta dan juga kasih sayang yang tak terhingga.
Sampai pada akhirnya, sebuah perkataan yang tak berprikemanusian membuat ibu
dan juga aku merasa terpukul. Aku tahu ibu pasti sedih sekali, sampai saat
inipun terkadang ibu masih punya kesedihan tentang itu. Tapi, aku berusaha
memberikan penejelasan bahwa rejeki, jodoh, masa depan dan kematian itu semua
misteri. Kita tidak bisa menebak kapan datangnya. Karena Tuhan selalu punya
kejutan yang terbaik yang sudah tertulis dilangit. Kita hanya menyiapkan diri
sebaik mungkin.
Sudahlah, kita
cukup mendengarkan. Tak perlu membalas apalagi ada dendam dihati. Karena, tanpa
kita sadari, kita juga pernah berbuat seperti itu. Menyakiti orang lain tanpa
memikirkan dampaknya kedepan. Dengan kejadian seperti ini, menjadikan pelajaran
berharga agar kita selalu intropeksi diri, apakah benar apa yang sudah kita
perbuat?, apakah hari ini kita berbuat kebaikan secara ikhlas? Ataupun yang
lainnya. Hidup ini bukan hanya memikirkan itu-itu saja, masih banyak hal-hal
yang jauh lebih bermanfaat untuk dipirkan dari sekedar itu.
“dan teruslah
berbuat kebaikan, benar kata Ibu, kita hidup bukan untuk jalan ditempat,
apalagi merenungi masa lalu, tapi kita hidup untuk masa depan yang lebih baik.”
Kami semua sayang Ibu


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐