Kehadiran Yang Paling Di Nanti
aku ingin sekali punya baby.
Bagaimana mau punya baby sendiri
kalau suaminya saja belum ada. Tidak mungkin aku punya anak tanpa seorang
suami. Apa kata mereka nanti. Yang ada mereka justru punya pikiran aneh-aneh
tentang diri ku. Mereka bilang, selama ini aku perempuan tidak benar, sampai-sampai
punya anak tanpa seorang ayah.
Ah, entah kenapa aku ingin sekali
punya anak sendiri.
Aku suka dengan anak-anak.
Menurutku anak-anak adalah pesan hidup yang ingin kita sampaikan pada masa
depan. Selama kita mampu menjadi orang tua yang baik bagi mereka, mampu
memenuhi kebutuhan lahir bathin mereka. Kenapa harus takut untuk punya anak.
Anak itu titipan sekaligus
anugrah tak terhingga bagi orang tuanya. Bagi perempuan terutama. Kebahagian
yang tak tertandingi setelah menjadi sitri adalah menjadi seorang ibu.
Ibu. Aku teringat dengan ibu ku
sendiri. Beliau adalah perempuan terhebat yang aku temukan di dunia ini. tak
ada yang bisa menandingi kasih sayang ibu terhadap anak-anaknya. Justru kamilah
yang sering sekali membuat mereka repot dan juga sering membuat mereka sampai
berlinang air mata. Ibu, maafkan ananda.
Nak,
Ibu ingin sekali melihat mu lahir
kedunia ini. ibu ingin sekali mendekap mu. Tapi apa daya.
Allah Karim, aku ingin sekali
punya keluarga. Aku ingin belajar menjadi seorang istri yang sholehah. Ibu yang
baik buat anak-anak ku nanti.
Ingin sekali rasanya aku
menangis, menahan haru. Mengahdirkan si kecil lahir di tengah-tengah kami.
Perempuan yang sudah berumur apalagi yang di tunggu, selain menjadi istri dan
ibu. Selain itu, seorang perempuan hanya bisa berharap-harap cemas. Apakah dia
akan cepat menikah, atau menunggu laki-laki yang tidak siap untuk membangun
komitmen ersama atau hanya ingin bersenang-senang saja.
Menerut ku tak ada perempuan yang
betah hidup sendiri sampai ajal menjemput. Sungguh tak ada pperempuan yang
menginginkan hidup sendiri selamanya. Perempuan itu memang keras kepala, tapi
sejatinya mereka lemah. Mereka ingin bisa di mengerti. Mereka hanya ingin di
pahami dari perspektif yang berbeda, itu saja.
Jika nanti aku menikah, aku akan
sesegara mungkin punya anak. Aku bahkan, jauh-jauh hari sebelum menikahpun
sudah mempersiapkan namanya. Jika laki-laki aku akan memberi nama Muhammad Al
Fatih. Bila perempuan Aisha Medina....
Hati semakin tak karuan, untuk
menanti kehadiran mereka. Aku bahkan ingin banyak punya anak. Bahkan aku ingin
punya anak lebih banyak dari ibu ku. Dan keinginan ini sudah pernah ku tulis di
buku catatn pribadi ku. Hebat bukan. Aku terlalu banyak keinginan. Padahal aku
sendiri tidak tahu harus bagaimana caranya menjadikan sebuah kenyataan. Ini misteri, dan aku tak mampu
mengungkapnya. Biarlah waktu yang akan membokangkar dengan sendirinya.
Aku iri sekali dengan teman-teman
ku, melihat mereka begitu bahagia karena sudah di kasih Tuhan untuk menjadi
seorang ibu. Panggilan ibu, adalah panggilan paling bahagia yang kau dengar.
Dan, kelak aku ingin anak-anak ku memanggilku dengan sebutan “IBU”.
Teman-teman ku bahagia. Sedangkan
aku.
...................
Percuma menginginkan laki-laki
itu untuk menjadi suami dan ayah buat anak-anak ku nanti. Dia saja di ajak
untuk serius plin-plan begitu. Bagaimana mungkin, aku memilihnya menjadi bagian
dari hidup ku.
Aku tahu, menikah itu tidak
gampang, apalagi harus mengurus keluarga. Menikah itu kalau tidak mengerti
ilmunya, bisa-bisa salah jalan.
Menikah,
Mungkin saja saat ini yang aku
inginkan hanya sebuah nafsu. Mungkin saja ini bisikan-bisikan yang tak harus
aku telan bulat-bulat.
Aku ingin menikah, tapi tidak
dengan laki-laki yang semeraut. Aku ingin punya suami yang benar-benar
berkomitmen, dan mau sepenuhnya mengurus keluarga. Itu saja.
Dan, entah berapa ribu detik lagi
yang aku tunggu untuk menanti anak-anak yang manis dan menggemaskan. Dan,
menjadi perempuan paling bahagia di dunia karena di panggil dengan sebutan IBU.
Untuk calon anak-anak ku yang
entah masih berupa apa, ibu sangat menanti mu. Jika kau hadir ke dunia ini ibu
ingin kau menjadi manusia-manusia hebat yang ada di muka bumi ini.
Jadilah kau seperti Muhammad Al
Fatih yang mengagumkan karena di usia 21 tahun sudah menjadi panglima perang
untuk membebaskan kota Konstantinopel yang telah di gadang-gadang oleh
Rasulullah.
Dan kau putri ibu tercantik,
Aisha Medina......jadilah perempuan cerdas seperti istri Rasulullah Saidatina
Aisyah. Jadilah, anak-anak ibu yang bermanfaat untuk semua orang. Jadilah, kau
jembatan untuk ibu menuju surga Nya. Jadilah, manusia-manusia terhebat yang ibu
miliki. Nak, harapan ibu ini sudah lama ibu nantikan. Nak, kau nanti tak pperlu
bertanya apa mau ibu, karena suatu saat nanti kau pasti membaca tulisan ibu
ini. dan inilah yang ibu inginkan untuk mu dan untuk kebahagian kita semua.
Baik-baik ya nak di sana. Jangan
nakal. Ibu masih menanti seorang ayah untuk kalian. Doakan ibu ya nak, agar
kalian punya ayah yang paling soleh dan tanpan.


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐