Mahasiswa Galau


Kondisi keuangan mahasiswa semester akhir memprihatinkan. Untunglah, bukan kondisi keimanan yang menitipis dan semakin hari semakin memprihatinkan juga. Selama masih ada iman, kita masih bisa berfikir positive, bahwa Tak ada uang, bagaimana caranya kita memutar otak untuk bekerja keras lalu mensyukuri apa yang Tuhan beri selama ini. anggap saja ini sebuah ujian. Suatu saat nanti jika kita punya rasa sabar, tetap bersyukur meskipun keadaan sedang memburuk. Pasti ada jalan keluar yang akan di temui. Hanya saja kita harus punya mental tahan banting agar menjalani hidup kedepannya tidak mudah rapuh.

Semester  (tujuh). Semester serba galau. Duit sering tidak punya, tugas menumpuk. Sering ditolak dosen masalah pembuatan skripsi. Belum lagi masalah-masalah pribadi yang tidak tahu dimana sering berceceran. Semuanya, benar-benar ambruk.

Masalah hubungan dengan (pilihan orang tua) juga berjalan tidak  lancar. Sejujurnya  malas sekali, Cuma mengikut aturan Tuhan saja. Kalau memang prosesnya seperti itu, mau bagaimana? Ya sudahlah.

22 tahun, bukan usia remaja lagi. tapi tahap menuju menjadi orang dewasa seutuhnya. Apapun yang kita lakukan sekarang, itu harus dipertimbangkan lebih dulu. Jangan berbuat sesuatu tapi tidak bisa untuk mempertanggung jawabkannya. Karena, usia sekarang tentulah kita di tuntut untuk selalu bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun tempat di mana kita diam (menetap). Mengalami keterpurukan setelah berkali-kali jatuh itu sudah biasa, asalkan kita ada niat untuk bangkit dan berjuang buat kehidupan yang lebih menjanjikan di masa mendatang. Optimis dan semangat, dua poin penting agar tidak mudah down. Punya masalah, itu artinya siap menyelesaikannya, dan tetap mencari soslusi yang lebih baik. 22 tahun, siap dengan tanggung jawab. Siap denga segala apapun. Siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dan kemungkinan itu bisa diluar kehendak.

Menikah. Yup.

Itu sebuah tanggung jawab. Selama nanti punya suami yang juga punya visi misi sama  dengan kita dan mampu membentuk sebuah hubungan yang lebih baik untuk menuju keluarga sakinah. itu tidak masalah. Kita tidak bisa memasak misalnya, bersama-sama untuk belajar. Saling membantu satu sama lain, saling tolerensi, saling mmenutupi kekurangan masing-masing. karena menikah dengan orang yang sebelumya tidak akrab itu, memang agak sulit. Merasa malu-malu. Canggung saat berdua. Dan, mungkin saja lebih banyak mengalami kebingungan. Ciyeee...

Romantis, tapi malu-malu kucing. (shy-shy cat)

Tipikal suami yang aku inginkan seperti kak Abdur Arsyad. Sederhana bukan, tidak tampan seperti artis-artis Hollywood. Tapi, juga tidak jelek-jelek banget. Satu hal yang aku suka dari sosok komika itu, selain lucu tentunya juga smart. Kak Abdur sendiri sudah lulus S2. Jurusan Matematika lagi. perempuan mana coba yang tidak tertarik dan diam-diam menuruh hati. Aku memang tidak mengenal secara dekat, tapi yang aku tahu kak Abdur sepertinya sholeh, suka membaca buku, pekerja keras, dan selalu optimis melihat kedepan. Ah...hati ku tak kuat membendung rasa haru sekaligus senang tak kepalang, andai saja kak Abdur benar-benar menjadi suami ku. Sosok yang begitu aku kagumi ketika awal-awal aku menjadi mahasiswa. Dan sampai di tingkat akhirpun, aku tak bisa untuk selalu stalking-stalking  media sosialnya. Melihat perkembangannya dan apakah kak Abdur baik-baik saja.

Aduh Tuhan, tak pernah kami berbicara apalagi bertatap muka secara langsung, sudah membuat aku berbunga-bunga. Bahwa pandangan pertama untuk  jatuh cinta pada sosok itu tak bisa aku sembunyikan. Aduh Tuhan, ingin sekali aku bertemu dan memeluknya secara halal, dan aku akan membisikan kata-kata yang aku sendiri sudah tidak sanggup lagi untuk tidak mengatakannya. Bahwa aku “sayang kak Abdur.”

Kak Abdur dan kak fakhri, dua sosok laki-laki yang berbeda. Kak Fakhri, kakak senior disekolah dulu ,tergila-gila bukan karena ketampanannya, tapi karena kesholehannya. Dalam ilmu agama dan umum kak fakhri memang tak ada tandingannya. Sayang sekali, di hari pertama kami bertemu, justru itu juga hari terakhir kami bersuara, mendengar kata-kata ajaibnya. dan untuk menatapnya, tidak bisa lagi aku temui untuk sekarang ini. sadar dengan kondisi diri sendiri, bahwa aku memang tak pantas berada di sampingnya, apalagi harus menemani hidupnya. Untuk sekarang dan seterusnya. Tuhan bukan tidak sayang dengan ku, karena ku pikir dulu, Tuhan tidak adil. Kenapa tidak menjodohkan ku dengan kak Fakhri. Tapi, tak mengapa. Di langit sana sudah tertulis kak fakhri bukan jodoh yang yang terbaik untuk hidup ku, tapi kak Fakhri yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya sekarang.

Tuhan jodohkan aku yang sesuai dengan pilihan hati ku dan itu yang terbaik menurut Engkau.


Komentar

Postingan Populer