Masalah Hati Tak Bisa Di Paksa


dari awal saja aku sebenarnya kurang merasa cocok sama kamu. Gara-gara ibu nih, nyuruh aku untuk kenalan. Aku sejujur gak mau, karena aku sayang ibu, karena aku tak mau menyakiti hati ibu, karena alasan ku yang masih konyol. Terpaksalah. Makanya aku mau saja disuruh-suruh.

Satu hal penilaian ku tentang Kamu. pelit. Itu yang pas buat kamu.

Memang benar, saking pelitnya kamu tidak pernah memanggil nama ku meskipun itu hanya lewat pesan. Akhirnya, keluar jugakan kata-kata kasar ku. Sorry! Aku sebenarnya bukan bermaksud begitu. Cuma aku merasa kamu seakan-akan tidak menghargai dan menghormati ku. Aku kan punya nama, panggil dong, jangan Cuma menyapa “haiy-haiy” saja. Berkomunikasi sama kamu hanya sekedar basa-basi, ternyata juga sudah BASI. B-A-S-I.

Aku sadar, kamu memang tidak menyukai ku.

Cinta tak seharusnya di paksakan, dan kali ini. aku yang harus kena marah mereka. Seakan-akan aku jugalah penyebab kamu tidak menyukai ku. Baiklah, aku akui aku memang salah dan egois. Aku juga harus menurunkan keegoisan tingkat tinggi ku. Aku harus, seperti kebanyakan perempuan lain. lembut, anggun, ramah dan tipikal maratus sholehah. Bukan macam perangai asli ku yang tidak bermoral. Suka ngomong sembarangan, suka ketawa-ketiwi tidak jelas. Suka hal aneh. Dan paling membahayakan, aku suka mengucapkan kata-kata sumpah serapah. Ini bukan salah orang tua ku, tapi ini karena aku sendiri penyebabnya. Aku mungkin ­­trauma dengan kisah cinta bak dongen cinderella, ternyata Kisah cinta ku dulu, menyakitkan. Salah ku juga. Aku yang terlalu berharap. Baiklah, ini memang semua salah ku. Dan kalian semua yang benar.

Fine. Tidak masalah.

Aku tidak suka di kekang, aku tidak suka kalau aku belum berkehendak di paksa-paksa. Aku punya pilihan sendiri, tapi tidak untuk saat ini. aku mau orang tua ku sendiri yang harus mengahargai pilihan itu, tapi boro-boro. Pilihan itu Cuma ada di dalam kepala ku. Orang tua ku mau yang nyata. Bukan manusia yang berbentuk hayalan, bukan kisah cinta yang berbentuk pikiran. Mereka mau yang riil.
Aku anak perempuan.

Justru itulah mereka terlalu mencemaskan umur ku. Mereka takut, nanti-nanti aku tak cepat mendapatkan jodoh, karena aku sendiri beberapa kali menolak mereka. Aku anak perempuan yang terlahir, dari kelaurga dan masyarakat yang masih memegang bahwa tidak kawin di usia muda maka akan menjadi aib banyak bagi banyak orang.

“kamu itu perempuan, Ya..”
“kamu itu sudah berumur, benar kata tetangga. Perempuan itu bisa sayup, perempuan itu kalau sudah berumur menikah, agak sedikit kurang beraura. Kamu, jangan suka menunda-nunda. Kalau ada yang cocok, secepatnya.” Aku muak mendengar kata-kata itu.

Aku tahu ibu luar biasa sayang dengan ku, tapi. Ibu terlalu memakan omongan tetangga yang tidak jelas asal usulnya. Kita menikah bukan untuk kebahagiam mereka kan Bu, yang nanti menjalani aku. Yang ber berbahagia atau mendirata juga aku, terus apa peduli mereka.

Setan semua mulut mereka, tidak perlu mulut-mulut setan didengarkan.
Sudahlah, aku memang punya aura lapuk. Aku sengaja lapuk-lapukkan saja.

Aku sebenarnya juga tidak mau begini, aku juga tidak mau. Aku juga mau seperti kebanyakan orang, masihh muda berumah tangga, punya anak. Punya kehhidupan yang yang indah dilihat orang.
Memangnya menikah buat menyenangkan orang. Enggakkan.
Memangnya menikah, Cuma sekeda esek-esek lalu punya anak. Enggak jugakan.
Menikah sekali dan selamanya. Kalau aku belum siap sekarang, memangnya menjamin bakal utuh punya rumah tangga. Untuk tanggung jawab pada diri sendiri saja masih ogah. Apalagi harus bertanggung jawab untuk orang lain. apalagi, harus disiplin, memasak, mencuci, bersih-bersih. Aku tidak siap. Aku memang tua, dan umurku juga tidak mencirmankan usia remaja lagi, tapi bukan berarti aku juga sudah dewasa.

Aku galau. Aku suka tertawa, karena aku mentertawakan diri sendiri. Mentertawakan nasid sial yang ada pada ku. Kenapa Tuhan jahat pada ku?.
Maaf Tuhan, aku berprasangka jahat pada Mu.

Baikalah, aku terima nasib ini. dengan memperbaiki diri untuk lebih baik, dan mensyukuri. Engkau baik sekali tanpa aku mintapun Engkau telah memberi.
Sekali lagi maaf Tuhan.

Aku hanya manusia yang tak pandai bersyukur.
Maaf juga orang yang telah aku sebut “pelit” tapi itu memang benar. Jangan marah ya. itung-itung, kamu ngaca, benar gak sih pelit.


Komentar

Postingan Populer