Rizki Murid Hyperaktif


Namanya Rizki.

Dia adalah salah satu siswa yang baru duduk di kelas 1 Mts.

Kenapa aku tulis ceritanya, karena dia anak yang membuat ku hampir menangis ketika pertama kali mengajar. Sebenarnya Rizki anak yang pandai, tapi dia mempunyai kelebihan di atas rata-rata anak seumurannya. Aku tak tahu harus bilang apa. Bahasa sopannya dia adalah anak hyperaktif. Dan aku hampir tak sanggup untuk berlama-lama mengajar dalam kelasnya.

Dia adalah sebuah makhluk yang dikirim Tuhan untuk ku, menguji batas seberapa besar arti sabar dan ikhlas dalam diri ku, jangan-jangan selama ini arti sabar yang sering ku ucapakan hanya di bibir saja dan ketika harus di hadapkan pada sebuah kenyataan, betapa mengerikannya arti kesabaran yang sesungguhnya.

Babak baru dalam hidup ku baru saja di mulai.

Ada banyak sahabat yang sekarang menemani ku saat suka dan duka dalam mengajar, dan aku pasti tahu, mereka juga mengalami apa yang aku alami sekarang.

Mereka adalah Abdussalam, Ajiannor, Faridi dan M Fakhri terakhir aku (Muliati Asyura).
Kami adalah mahasiswa PPL B di Mts Manbaul Ulum, Tambak Baru, Martapura. Entah angin apa yang menyebabkan kami harus terdampar di sana, yang jelas visi misi kami semua sama. Ingin membuat kesan dan kenangan ynag terbaik untuk sekolah tersebut. Entah dengan cara apapun kami lakukan.

Dua minggu tak terasa, dua bulan juga bukan waktu yang sebentar. Kami harus pandai menyesuaikan diri di lingkungan baru. Membuat orang agar terkesan dengan apa yang kami bawa. Membuat murid-murid di sana merasa ada sesuatu yang istimewa jika harus terlewatkan. Susahkah itu di laksanakan?. Tentu saja susah, jika tidak di dasari dengan pengorbanan dan kerja keras. Kembali pada kisah Rizki, dia adalah anak yang berbakat hanya saja guru-guru di sana atau bahkan kami sendiri tidak menyadari akan hal itu. 

Aku selalu kewalahan dalam berinteraksi dengannya, yang ada justru aku sendiri Kelelahan mengatasinya. Anaknya sulit sekali di atur. Aku sendiri bingung, maunya apa?


Sebagai seorang pengajar aku tidak bisa mengedepankan keegoisan ku, aku harus bisa memahami karakter mereka semua. Kelas satu, bukan hanya menajadi masalah ku saja. Tapi, rekan-rekan ku sesama PPL B juga mengalami hal yang sama. Jika boleh memilih dan tetap mengajar, maka aku akan memilih kelas II saja. Mereka lebih bersahabat, mudah di atur dan mereka bisa memahami. 


Komentar

Postingan Populer