Akhirnya Cinta Itu Berakhir Sudah. πŸ’”


Hasan,

akankan cinta ku berlabuh sampai kepelaminan dengannya.

Saat ini Cuma dia satu-satunya lelaki yang aku kenal sekaligus yang juga ingin serius dengan ku. pertama kali aku kenal dengannya, aku merasa kita sangat berbeda, tapi setelah di jalani beberapa minggu, akhirnya perbedaan itu bisa ku terima, meskipun aku sering kali suka menyalahkannya, dengan hal-hal sepele yang aku anggap tidak sesuai dengan koridor ku. Tapi, justru di situlah uniknya, karena adanya perbedaan kita justru sama-sama saling melengkapi dan mensyukuri. Sama-sama belajar dan memahami karakter masing-masing.

Hasan sering kali kena tampar ucapan ku. Bahkan, dengan tega aku bilang padanya kalau dia ‘pelit’. Inilah, itulah. Tidak lagi sekedar basa-basi. langsung, kepokok permasalahannya. Hasan memang bukan pilihan hati ku sendiri, kenalnya juga seperti kesan bahwa kami di’jodoh’kan.

Jatuh cinta, awal-awal benci, seiring waktu berlalu, rasa benci itu sedikit demi sedikit berubah jadi rasa suka dan menerima apa adanya. Pernikahan itu tidak bisa di lihat dari jangka pendek, tapi pernikahan itu di lihat untuk masa depan dan tentunya, selamanya. Aku memikirkan, Cuma sekedar punya wajah yang tampan, itu tidak menjamin kita bahagia, Cuma sekedar anak orang kaya, juga belum tentu kedepannya membuat hidup tercukupi, tapi dari individunyalah yang amat menentukan, apakah dia tipe lelaki yang bertanggung jawab, pekerja keras, berpendidikan serta taat dengan Tuhannya. Itu poin penting yang aku cam’kan dalam daftar catatan ku.

Aku sering berharap, sering sekali. Ketika aku sendiri, tidak sedang memikirkan apa-apa, aku suka bertanya pada diri sendiri dengan berbagai pertanyaan yang aku sendiripun tidak tahu seperti apa jawabannya. SIbuk merangkai satu hal kehal-hal yang lain, cemas dengan takdir yang sudah Tuhan tulis di atas sana. Bingung, apakah Hasan suka dengan ku?, kapan Hasan akan melamar ku?, ataukah, aku tidak lebih hanya ‘sebatas teman’ yang tak terlalu di ambil pusing keberadaannya.

Kalau saja dia tahu, bagaiman cemasnya aku menanti?

Kalau saja dia tahu bahwa, di sini aku selalu barharap dia akan mengatakan sesuatu yang membuat perempuan acapkali berbunga-bunga.

Ah,,,kalau saja semua itu jadi kenyataan?.

Aku sudah pasrah, lelah membujuk diri ku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lelah, mencintai lelaki yang sedikitpun tidak bersedia mengucapkan cintanya. Lelah, bahwa aku tidak punya siapa-siapa lagi yang aku cinta untuk seorang lelaki.

Tidak mungkin aku mencintai suami orang hanya karena aku tidak mau lepas dengan masa lalu. Seberapapun besarnya kisah ‘cinta’ di masalalu, dan seberapapun menyakitkan luka itu, ia tetap hanya sebuah masa lalu. Masa lalu seperti bayangan, selama kita masih hidup ia akan selalu mengikuti, di manapun. Yang hanya kita perlukan adalah, membiarkannya.
***
Dan, perlu kamu ketahui satu hal lagi.

Dan ini sungguh penting untuk kamu ketahui. Agar jangan ada lagi kesalah pahaman tentang perasaan di antara kita.

Saat Ibu menyuruh ku meninggalkan mu, justru perasaan cinta itu mulai tumbuh dan sedang mekar-mekarnya. Aku mungkin berat hati melepaskan mu, setelah berjuang begitu keras mencintai dan menerima kamu apa adanya, justru dengan ringan Ibu menyuruh ku meninggalkan mu begitu saja. Aku mungkin berbohong pada Ibu soal aku sama sekali tidak punya perasaan cinta dan sayang denganmu, tapi di luar itu semua, aku sedang menanti mu, berharap kamu akan mencintai ku apa adanya sebagai mana diri ku.

Entahlah, apa yang membuat mu begitu sulit mencntai ku, membalas rasa sayang ku dengan balasan meskipun sebaris pesan singkat. Aku perempuan bodoh, yang mencintai laki-laki bodoh seperti diri mu. Aku tahu, kamu tidak ingin membuat ku kecewa dan sakit hati, tapi justru dengan cara mu diam dan tidak menunjukkan ‘kode’ apapun justru itu, aku semakin gila untuk membuat mu bisa mencintai ku. Semakin kamu menolak dan tidak bersedia menikah dengan ku, aku juga semakin bersemangat untuk membuat mu mencinta ku. Dengan cara apapun. Sayang sekali, aku salah besar tentang itu.

Cinta memang tidak bisa dipaksakan, cinta itu mengikuti kata hati, jika hati mu nyaman dengan keberadaan ku, merasa hangat dan ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan, meskipun hanya sebait kata-kata. Mungkin kamu jatuh cinta dengan ku. Tapi, berkali-kali aku menanyakan keseriuasan mu dengan ku, jawabannya hanya itu-itu saja. Kamu belum siap untuk lebih jauh melangkah bersamaku, kamu selalu saja berkilah, bilang belum mampu bertanggung jawab, bilang bahwa, menikah itu sulit. Alasan klise untuk orang berpendidikan tinggi seperti mu.

Apa mau di kata, fakta yang ku rasakan memang begitu adanya.

Apa yang bisa ku perbuat sekarang, selain menerima bahwa, kamu tidak mencintai ku. Menangis, kamu juga tidak pernah peduli. Sama tidak pedulinya aku di dalam hidup mu. Kamu biarkan saja aku meminta tanpa pernah memberi, kamu biarkan aku menunggu tanpa pernah ada penjelasan untuk menyuruh ku berhenti. Kamu biarkan aku gersang menjalani hidup ini tanpa pernah menyirami ku dengan setetes cinta. Kamu menganggap ku ada hanya untuk melayani nafsu mu, aku membuat mu bahagia karena akulah perempuan yang memahami biologis mu yang amat sangat luar biasa (seolah-olah) suci itu. Kamulah laki-laki kedua yang juga bahagia menikmati setiap kata ‘intim’ku untuk memuaskan hasrat terpendam mu. Kamu munafik Hasan, munafik. Kamu bilang, kamu tidak menyukai pesan singkat yang berbau maksiat, tapi kamu menikmatinya tiap kali membacanya. Iya kan. Kamu bilang, kamu lelaki yang taat menyembah Tuhan tapi kamu juga diam-diam bermaksiat dan berpaling untuk mengikariNya. Kamulah lelaki kedua, yang juga membuat ku melambung tinggi berharap agar aku bisa terbang, tapi kamu justru mematahkan sayapnya. Kamulah lelaki kedua yang aku berharap agar semua impian ku tercapai. Tapi apa, lihatlah. Sampai aku menulis hampir ribuan hurufpun, tidak juga aku menemukan cinta dalam diri mu. Tidak juga, meskipun cinta itu sebesar debu atau setebal bayangan. Harapan itu pupus sudah, Hasan. Harapan itu juga mulai hilang entah kemana, meskipun cinta di hati ku masih ada, tapi ia hanya sebuah masa lalu.

Bahagia tidak bahagia, aku harus bisa menerimanya ‘sebahagia’ mungkin. Harus tertawa, meskipun hati ku luar biasa pilu. Bahagia,karena Ibu memahami ku agar jangan terlalu jauh berharap dengan mu. Menyuruh ku meninggalkan mu dan mencari seseorang yang bisa menggantikan mu di dasar terdalam hati ku.  Bahagia, akhirnya keputusan untuk meninggalkan mu sejak dulu tercapai sudah. Tapi, kebahagian itu hanya tampak dari luarnya saja, jika kamu memahami dari awal, tidak mungkin kamu berbuat tega seperti ini.

Kamu JAHAT, Hasan. Kamu JAHAT.

Cukup sampai disini saja perasaan ini, Hasan. Jangan lagi kita membangun sebuah angan-angan hanya untuk di robohkan. Biarlah, biarlah waktu yang mengobati rasa sakit dan kecewanya hati ku. Biarlah, Tuhan saja yang menentukan kemana arah cinta ku ini. jika kamu memilih meninggalkan ku untuk menghalalkan orang lain, aku sudah bisa menerima dengan ikhlas, meskipun tidak sepenuhnya.
Rupanya lagu ‘asal kau bahagia’ itu memang tercipta untuk ku.

Sudahlah, tak ada yang perlu di ratapi. Saatnya bangkit dan menyibukkan diri, untuk mendiamkan di tempat arti cinta dan sebuah masa lalu itu.




Komentar

Postingan Populer