Asrama Tempat Hangout Yang Nyaman


Meskipun malam-malam asrama sering berhantu, sering mendengar keran air hidup sendiri, sering juga mendengar suara-suara yang tak jelas, wajah-wajah yang juga sulit di gambarkan. Tapi di balik itu semua ada cerita yang seru yang tak akan pernah di lupakan, setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun bahkan seumur hidup.

Ini hanya sebuah cerita yang juga serba tak jelas. Di dalam cerita ini banyak makhluk-makhluk yang bergentayang tapi bukan kuntilanak, makhluk-makhluk yang berwajah sedih tapi bukan putus asa. Makhluk-makhluk Tuhan yang ingin menempuh kebahagian hidup di dunia.dan juga Yang mendambakan kesuksesan di akhirat. Itulah kisah ku dan teman-teman ku.

Perkenalkan teman ku yang pertama. Namanya Mariatul Kibtiah atau sering kami memanggilnya dengan sebutan “Kaka Atul”. Dia lima tahun lebih tua dari ku, secara umum dia orangnya supel, baik, dewasa, lucu dan kami lebih tahu sifatnya yang gampang baper (bawa perasaan). Kami semua suka dengannya, karena kepribadiannya yang mudah bergaul dengan siapapun. Dia paling tidak bisa mendengar orang sakit hati , senang, apa lagi yang mau kawin, pasti kambuh tuh penyakit bapernya. Pokoknya kalau ketemu perempuan baik hati itu Cuma ada di asrama Darussalam. Nggak percaya, makanya kenalan dong. 

Yang kedua namanya Raudatul Jannah, dia satu kamar dengan ku. Otomatis yang paling cantik di antara kami. Semua orang pada iri hati, karena kulitnya yang putih bersih tanpa lecet sedikitpun. Wajahnya yang agak babyface, di tambah lagi kepribadiannya yang menyenangkan, pasti semua orang bakal suka. Kami yang cewek-cewek saja suka melihat tingkah lakunya, bagaimana dengan cowok-cowok, tentunya, mereka lebih greget untuk mencubit pipi incomentnya itu.

Nor Syifa, teman satu kamar Kaka Atul. Syifa orangnya kalem saja, tidak banyak bicara, kalau setuju, dia Cuma bilang ‘iya’ kalau tidak hanya menggeleng, tipe orang yang tidak banyak basa-basi. Satu hal yang aku suka, dia tidak pernah rusuh dengan siapapun, tidak pernah juga macam-macam, cukup tersenyum dan itu semua membuat kami mafhum dengan kepribadiannya yang anggun. Psssttt...dia anaknya cantik lho, manis pula. Sayang, aku cewek sih coba kalau cowok, tuh anak pasti udah aku pacari. Eh.!

Kak Dewi ‘Setia’wati. Dari namanya aja pasti ini orang setia banget sama pasangannya, sama namanya aja dia setia, bagaimana dengan pacarnya. (itu juga kalau punya sih). Sementara ini dia pulang kampung, jadi kalau tidak ada Kak Dewi berasa ada yang kurang, entah apa gitu. Dia paling ceriwis, paling ceria, tidak mudah baper. Setiap kali bertemu, pasti kami selalu asyik berdua, bercerita banyak hal, sampai yang tak masuk akalpun jadi bahan tertawa bersama. Begitulah, kalau sudah semuanya berkumpul, suka ribut, suka debat hal yang tak penting, dan sampai menangis aku tertawa akibat ulah teman-teman yang serba absurd.

Bahagia itu sebenarnya cukup sederhana, katika kamu berkumpul dengan orang  yang membuat kamu nyaman palagi sampai membuat kamu tertawa lepas itu sudah bagian dari bahagia tau. Tidak perlu sesutu yang istimewa, tidak perlu juga yang bersifat materi. Bahagia itu letaknya di hati.

Sebenarnya banyak banget  teman-teman ku yang mau kutulis tentang mereka tapi, berhubung banyak dan memakan waktu semantara waktu ku sempit, jadi. Nanti aja yang lainnya.

Pasti suatu saat nanti, setelah semuanya terpisah bakalan kangen banget masa-masa berkumpul bersama. Masa-masa di mana kita semua pernah merasakan sesuatu yang begitu indah. Bukan jatuh cinta aja hari menjadi indah. Kumpul bersama teman-temanpun bisa juga terasa lebih indah dan spesial.

Sekarang aja aku sudah merasa di tinggalkan sebagian teman-teman ku, dari SD, Mts Dan Aliyah. Dan, aku lebih merasa punya teman yang super akrab banget ketika aku sudah duduk di bangku kuliah. 

aku tidak pernah tahu bagaimana nasib seseorang kedepan?, aku sendiripun juga tidak tahu bagaimana dengan nasib ku sendiri?. Apakah aku sukses, sukses wafat duluan. Semoga.

Satu hal yang aku inginkan. Ingin cepat-cepat mati duluan. Ingin cepat mati aja semangat benar. Bekal buat masuk surga aja belum ada. Mungkin ada, tapi tak begitu nyata. Perlu juga aku konsultasi ke psikolog buat memeriksa kejiawaan yang seperti di ambang maut.

Kalau ibu ku sampai tahu kejiwaan ku yang tak stabil ini, pastilah beliau bingung. Padahal, aku sudah sering membuat ibu ku bingung, punya anak atau punya piaraan. Susahnya minta ampun untuk di pelihara.

Eh...tadikan cerita tentang teman-teman ku. Kenapa sekarang, jadi curhat begini. Itulah kalau suka nulis, ada masalah yang menganggu pikiran pasti langsung di tulis. Dari pada, cerita bukan pada tempatnya, malah barabe nantinya.

Dan, ini cerita ku yang suka aneh.

Sahabat Langit Mulia, doakan aku, dan akupun akan mendoakan kalian.

Kata teman ku lagi, JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA.



Komentar

Postingan Populer