Calon Guru Tak Berkompetensi, hiks


Sebagai guru aku tak seharusnya bersikap demikian. Membuat murid-murid ku bingung dan bertanya-tanya. “ada apa sebenarnya?”. Tapi, dalam satu bulan terakhir ini aku sudah mulai mengalami titik di mana rasa jenuh dan lelah itu ada. Aku tidak tahu bagaimana harus mengantisipasi. Yang jelas ini kesalahan ku sendiri. Tak  sepantesnya, masalah ini di bawa-bawa keorang lain, toh sebenarnya, hanya aku yang tidak bisa menyikapi dan mencari solusinya sendiri.

Dikatakan bahagia, aku memang terlihat bahagia.

Di katakan lesu dan tak bersemangat, faktanya memang begitu.

Aku masih mencari-cari pembenaran dari cara mengajar ku yang kurang optimal. Seharusnya, sebelum mengajar, aku terlebih dulu untuk belajar dan ekstra persiapan di rumah. Agar, ketika menyampaikan materi yang di pelajari hari ini berjalan dengan baik. Bukan sebaliknya, kelas menjadi ribut, kaku, seperti hidup segan mati tak mau.

Kelas satu, kelas pertama yang aku ajari. Dan juga kelas pertama yang sampai detik ini aku tidak bisa berdamai dengannya. Justru yang paling membuat ku makin geram adalah dalam seminggu harus ada dua kali pertemuan dalam mengajar . Parahkan.

Ada satu murid perempuan paling menyebalkan di kelas itu. Satu murid yang selalu membuat ku berapi-api dalam mengajar, bukan berapi-api karena semangat, tapi berapi-api yang yang siap merontokkan semangat juang ku dalam menyampaikan materi. Tipikal murid yang tidak suka dengan cara mengajar ku, sekaligus menampar ku tidak tedeng aling-aling lagi. dia kalau tidak suka, secara blak-blakan berbicara di hadapan ku, dengan mulut maju mundur dan tatapan yang tak mengenakkan. Kalau sudah begitu, aku Cuma bisa diam, menatapnya lamat-lamat dan mempertanyakan, di mana letak kesalahan ku?.

Sabar, saat ini cuma sifat itu yang aku punya. Selebihnya, aku harus belajar lagi bagaimana mendekati tipe siswa begitu. Belajar lagi untuk memperbaiki diri sendiri. Belajar, dan sampai kapan pun belajar adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan.

Dua bulan. Cuma sebentar. Dan, aku adalah seorang guru yang masih dalam penugasan dari salah satu kampus tempat ku kuliah. Satu bulan telah berlalu, dan satu bulan lagi juga tinggal menghitung minggu.

Berapa ribu detik lagi yang harus aku lewati. Rasa lelah, bad mood, nelangsa, dan perasaan yang tak bersahabatpun sudah aku rasakan. Dari mulai sendiri yang terasa di campakkan, dari mulai berkumpul yang juga terasa di diskriminasi, dan dari rasa cemburu yang aku simpan secara diam-diam.

Beginilah kawan, kalau sudah menyebut perasaan, perempuan sering tidak kuat. Bawaannya mau nangis. Padahal dipikir-pikir, apanya yang mesti di tangisi. Toh, tidak ada yang menyakiti secara fisik, tidak juga ada yang mungumbar rayuan yang membuat fly. Terus, di mana letak rasa “tersayat” itu.  *baper*

Rekan-rekan ku sesama calon guru juga mengalami hal yang sama. Mereka kerap di buat kesal dengan siswi perempuan yang duduknya persis di depan meja guru. Selain itu, siswa laki-laki juga ada yang selalu bikin sebal. Di suruh nulis tidak mau, di suruh kerjakan tugas malas. Katanya capek, katanya tidak bisalah. Keinginannya Cuma satu saat belajar. Cepat-cepat mau istirahat dan dia orang paling semangat ketika bel berbunyi. Aku tidak menegerti, anak-anak itu benar-benar di luar kendali.
Aku salut dengan rekan ku yang namanya Faridi. Dia selalu saja bisa di andalkan dalam keadaan apapun. Dia mampu mencari celah dan strategi yang cocok agar murid-murid yang “luar biasa” itu bisa diam dan fokus apa yang dia ajarkan. Aku terkadang iri dengan keberhasilannya mengelola kelas, dia begitu profesional sebagai guru padahal kita sama-sama “belum berpengalaman” sebelumnya. Tapi, dia selalu saja berhasil. Dari rumor yang ku dengar, dia memang dari keluarga yang berprofesi guru. Tidak di pungkiri, bakatnya dalam mengajar datang dari orang tuanya (keluarga besar).  Sebenarnya tidak menutup kemungkinan, dari kalangan yang bukan dari keluraga gurupun bisa saja menjadi guru. Asal ada usaha, kemauan dan kerja keras. Pasti bisa.

Begini nih tipe calon guru yang sedikit ada masalah mengeluh, sedikit saja ada hambatan langsung putus asa. Sudah bisa di lihat dari awal, guru ini tidak berkompetensi dalam mencerdaskan bangsa. Dan, hiks aku banget.


Komentar

Postingan Populer