aku menanti dalam doa dan inginku


22 tahun memang bukan usia muda, tapi pilihan cepat-cepat menikah juga bukan pilihan yang tepat. Okelah, aku setuju dengan perkataan mereka, jangan nunggu selasai S1 baru menikah, jangan menunngu punya penghasilan sendiri baru siap menikah. Oke, oke, menikah itu panggilan hati. Bukan nunggu ini, nunggu itu. Kalau memang sudah siap lahir batin, merasa mampu bertanggung jawab,  tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga suami/istri yang harus diberi tanggung jawab. Kalau nggak siap, rumah tangga akan hancur. Malah takutnya, menambah daftar perceraian saja.

Jika tetangga merasa risih dengan umur kita, karena dianggap tua. Jangan diambil hati, senyumin aja, cuekin aja. Dengar omongan mereka juga tidak menghasilkan uang. Mending abaikan saja. Kebahagian kita juga tidak terletak dari ocehan mereka. Mengapa harus repot-repot bawa beban sampai pusing kepala mendengarkan.

Nanti, jika sudah ada yang siap untuk menghalalkan kita, mereka juga tidak lagi membicaran kita seunek udel. Namanya hidup di masyarakat, tentu saja selalu ada bahan gosip yang menarik untuk dibicarakan. Apalagi, yang berkaitan dengan masalah aib orang. Rasanya, ada yang terlewat jika tidak menggosip.

Huh,,, anak perempuan di Indonesia apalagi letaknya di kampung-kampung, macam kampung ku pasti tetangga pada ribut, meributkan hal-hal yang seharusnya tak perlu diributkan. Cuma umur doang, apa menariknya untuk di bicarakan? Hanya berupa angka yang tak keramat-keramat amat, apa hebatnya untuk dinilai? Yah, begitulah!

Makanya, aku malas pulang kerumah, hanya gara-gara umur. Nggak fair memang. Aku sendiri yang menulis dengarkan, abaikan, dan tinggalkan. Tapi, aku manusia, tentu punya rasa marah dan punya rasa sabar yang minim, yang terkadang juga tidak bisa menahan emosi.
Apa boleh buat. Rupanya kegiatan ibu-ibu, tidak dikampung tidak di kota selalu saja temanya menggosip dan membicarakan aib sendiri dan paling menarik untuk dibicarakan adalah aib orang lain.

Jodoh itu misteri, mati dan rejeki juga sama. Tapi orang-orang tak pernah ribut membicarakan kematian, padahal itu adalah kabar paling pasti yang akan siap menghampiri siapa saja. Kita disuruh sama Tuhan untuk banyak-banyak mengingat kematian, agar ketika ajal menjemput kita tidak terkejut dan protes, kenapa malaikat menjemput nyawa cepat sekali datangnya.

Pengen juga begitu, ingin cepat untuk dihalalin. Ehh,,,ternyata belum ada orangnya.
Pengennya juga begitu, ingin menikah diusia yang masih muda. Tapi Tuhan belum memberi kesempatan.
Pengennya juga begitu, kayak orang-orang pacaran setelah menikah, tapi yang ada inginnya pacaran dulu baru nikah.
Pengennya semua juga begitu, tapi apa daya.

Emang sih, perempuan sepertiku yang tak punya kelebihan dalam artian teramat sederhana, pasti rada susah dapat jodoh, makanya umur 22 tahun, masih betah menyendiri dalam sepi. Bosan juga kalau lama-lama ketika tidur yang dipeluk guling terus-terusan, sakali-kali ingin dipeluk dan dibekap sama seseorang. Biar malam-malam ada yang menemani kalau mau ke WC, biar tidak lagi ketakutan. Waktu makan, ada yang menemani biar tidak lagi makan sendiri dan terasa hampa. Biar ada masalah, mudah curhat dan ada bahu yang siap untuk dijadikan sandaran. Biar ada yang menghapus air mata dikala sedih tak di harapkan datang. Dan biar bisa berbagi kebahagian, kehangatan, kecerian dalam momen paling indah.

Yang bisa aku lakukaan, kalau lagi rindu dengan seseorang, hanya sebuah diary dan pena, yang mampu mengobatinya. Hanya tulisan-tulisan yang menjadi saksi bahwa aku sedang rindu, eh! Yang dirindukanpun belum tentu juga punya kerinduan yang sama dengan ku . jangan tanya, dia cinta denganku apa tidak?. 

Tuhan sukseskan aku dalam masa mudaku yang masih ceria ini. jadikan aku perempuan hebat, agar mampu melahirkan generasi yang hebat juga. Karena, seorang ibu adalah guru pertama buat anak-anak yang aku lahirkan nanti. Aku tak ingin bangsa ini punya generasi yang lembek macam siput saja. Kalau aku tak cerdas. Tuhan, aku ingin “bapak”nya anak-anak aku nanti juga sama dengan keinginanku untuk membangaun peradaban ini lebih baik lagi.

tak apa aku telat menikah, tak apa aku tak menarik saat ini. setidaknya, dunia ini cukup keras kalau hanya diisi sama perempuan-perempuan yang pintar dandan dan merias diri. Cantik, punya masa. Jika datang masanya keriput apalagi yang bisa dibanggakan. kalau bukan keintelektualitasan seseorang. Dan aku ingin menyiapkan diri untuk masa yang akan datang. Masa dimana perempuan-perempuan lain sibuk membahas datangnya keriput sana-sini. Dan aku sibuk, dengan hasil usahaku untuk mensejahterakan hidup ini.

dan, ehmm...

aku menanti dalam doa dan inginku seseorang yang bersedia meminang ku dengan BISMILLAH.

Komentar

Postingan Populer