remaja masa kini


Bisa berbuat tapi tak bisa bertanggung jawab. Pengen enaknya tapi gak mau anaknya. Mungkin ini kata-kata yang pas untuk mengambarkan anak jaman sekarang.

Masih heboh dan hangat-hangatnya pemberitaan tentang di temukannya sesosok bayi berjenis kelamin laki-laki di halaman rumah seorang warga di Gang Sempurna, Tangjung Rema darat. Konon, pelaku tega membuang bayinya di karenakan akibat “kecelakaan”.

Anak adalah titipin Tuhan yang tak ternilai harganya, jika disia-siakan dan di biarkan begitu saja, tentu Tuhan akan marah. anak sesuci itu harus menanggung dosa orang tuanya akibat kelalaian mereka di waktu dulu (kira-kira sembilan bulan yang lalu). Merampas kebahagian mereka dengan cara di lahirkan kedunia akibat tidak dikehendaki. Siapa yang bisa menjamin, masa depan mereka nantinya akan baik-baik saja? Siapa yang bisa menjamin, mereka hidup tidak lepas dari cibirin para tentangga di lingkungannya?. Tak ada yang bisa menjamin, dan siapa yang harus di salahkan? Tentu saja perbuatan orang tua mereka di masa lalu.

Aku geram ketika pertama kali mendengar bayi yang masih baru dilahirkan di buang orang tuanya begitu saja. Mereka pikir itu macam eceng gondok yang sesuka hati dibuang dan tak dipelihara. Mereka pikir itu boneka yang tak bernilai. “dasar setan” itulah kata pertama yang keluar dari mulutku setelah mendengar cerita itu dari salah seorang teman. Sebenarnya ini pelajaran berharga, untukku dan para remaja lainnya, agar lebih berhati-hati lagi dalam bergaul. Apalagi jaman sekarang, godaan untuk bermaksiat selalu datang. Bisa lewat dari mana saja pula.

Apalagi perempuan, mudah sekali kena bujuk laki-laki macam buaya darat. di bilang ini senang, di bilang itu senang. Sudah masuk perangkap buaya, dan keluar harus berbadan dua. Baru tahu. Sekali lagi, ini pelajaran berharga agar kita-kita, para yang belum menikah lebih berhati-hati bergaul dilingkungan yang rawan mengarah pada kemaksiatan.

MBA, itu tidak enak. Korbannya akan selalu diingat orang. Mungkin kita berusaha melupakan, tapi tetap saja terkadang orang ada yang mengingatkan. Sakit nggak kalau sudah begitu. Tentu! Salah siapa, salah sendirilah tak berhati-hati.

Bagaimana ya perasaan orang tua si korban perempuan tahu bahwa anak mereka, melakukan sesuatu yang diluar norma.

Mereka dengan gampang melakukan perbuatan seksual, tanpa memikirkan dampak kedepan. Pas lahiran, anak seimut dan selucu itu harus dibuang pula.

 Arggghhh.....

Ada keluarga diluar sana yang sudah puluhan tahun menikah tapi tidak mendapatkan anak, ada yang belum menikah, dikasih Tuhan anak malah disia-siakan. Macam sinetron” dunia terbalik” saja. Prilaku mereka lebih kejam dari kucing piaraan di asramaku. Kucing, yang jelas-jelas tak punya akal saja tidak tega membuang anaknya, manusia, yang sudah diberikan akal, dengan tampang tak berdosa membuang darah dagingnya sendiri. Kalau dari awal di buang mending tak usah dilahirkan, kalau tak mau hamil, ya jangan berbuat. TOLOL!

Namanya nafsu, setan selalu matian-matian menyuruh manusia berbuat kemaksiatan. Menyuruh manusia melakukan sesuatu yang hanya enak sesaat. Menyuruh manusia lebih banyak lagi berbuat dosa, agar kelak bisa menemaninya di neraka.

Si laki-lakinya berumur 18 tahun, perempuannya 16 tahun. Dan diusia yang harusnya masih enak-enaknya mengenyam duduk dibangku sekolah justru, harus tertukar dengan nasib memalukan sampai tujuh turunan. Satu masalah selesai dengan menikah, tapi 4 masalah akan datang setelah menikah. Itu kata Ust Somad.

Untuk itu ibuku selalu mengingatkan agar lebih berhati-hati. Kalau memang waktunya telah tiba, pasti kebahagian itu akan ada. Sabarlah. Jangan grasak-grusuk.

Komentar

Postingan Populer