ENTAH APA LAGI? π
Aku lahir dari
keluarga yang masih taat memegang budaya yang diwariskan dari nenek moyang. Bunda
ku dan Bunda nya Bunda ku lagi selalu mengingatkan. kalau kita sampai melanggar
aturan pasti akan berakibat patal. Misalnya, yang aku alami sekarang ini, anak
perawan pamali menyanyi didapur, anak perawan, pamali duduk didepan pintu.anak
perawan di larang ini, anak perawan di larang itu, dan pamali-pamali lainnya
lagi yang pangtang dilakukan. Alasannya kadang tak masuk akal banget. Masa Cuma
nyanyi di dapur, nanti kawin sama yang umurnya jauh lebih tua. Kalau duduk
didepan pintu, jodohnya bakal macet. Aku masih belum mengerti dimana letak
logisnya. Apapun kata mereka, aku Cuma manggut dan mengiyakan saja. Dari pada,
diceramahi sama Bunda Cuma gara-gara itu, mending nurut.
Sebenarnya juga
bingung, apa karena aku pernah duduk didepan pintu, jodoh ku macet? Atau memang
karena akunya yang tak peduli dengan jodoh ku sendiri. Entahlah. Dalam hati
kecilku, aku terkadang ingin sekali menikah, dilamar seseorang yang sesuai
dengan pilihan hati ku. Tapi, disisi berikutnya, aku sadar, aku hanya perempuan
yang teramat sederhana. Susah sepertinya untuk menemukan jodoh. Tengok saja
sendiri, sudah tua begini masih betah sendiri, masih betah menyepi, masih serba
melakukan aktivitas hampir 99% sendiri.
Aku Asyura dan
dalam keseharian aku suka sekali mengenakan kerudung. Gara-gara punya rambut
super pendek, otomatis tak ada pilihan lain selain mengenakannya setiap hari. Dan,
sebagai perempuan muslimah, tak sepantasnya aku membiarkan rambut ku tergerai
kesana-kemari dilihat orang secara Cuma-Cuma. Yang boleh melihat rambut ku Cuma
imam ku [ehhhmm....]
Perempuan itu sifatnya
menunggu. Sabar dalam penantian. Berdoa pada sepertiga malam menunggu
kepastian. Agar keinginan untuk cepat-cepat di lamar akan kesampaian. Bunda ku
pernah bilang “sabar ada batasnya” dan, benar saja, aku hampir tak sabar
menunggu itu. Suka rusuh dengan hati sendiri. Suka grasak-grusuk tak jelas. Dan
itu sangat menyebalkan sekali. Tak pernah ada laki-laki yang memberi kepastian
padaku, tak ada laki-laki yang bersedia meminangku. Yang ada hanya laki-laki
bangsat yang suka mempermainkan.
Suka dengan
seseorang juga belum tentu orang itu menyukai kita. Terkadang, bicara memang
mudah. Tapi, ketika dihadapkan pada kenyataan. Susah untuk menerima. Dan aku
pernah merasakan diposisi terpojok seperti itu. Silaki-laki sebelum bertemu
dengan ku suka. Ehh, pas ketemu...alasannya untuk tidak berkomunikasi lagi
macam-macam. Padahal, yang menyuruh ku untuk ketemuan dengan laki-laki itu, Bunda
ku. Iya lah, kan Bunda yang paling ke-sem-sem sama tu orang. pada akhirnya. di Tinggalin
jugakan. Sakit hati sampai nangis-nangis. Malahan, amit-amit sampai ketemu lagi
sama manusia macam begitu.


Komentar
Posting Komentar
πtulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ππ