lelaki itu bernama Fa.


Hai sahabat langit mulia, bagaimana kabar mu?
Seperti biasa, aku ingin bercerita. Dan seperti biasa juga, ceritaku tentang cinta dan tentang kecewa.
---
lelaki yang aku suka itu bernama Fa, dan aku lebih suka menyebutnya dengan panggilan Fa, padahal bukan hanya dua huruf saja namanya. Tapi ada beberapa huruf lagi setelah Fa.
---
Fa adalah sosok lelaki yang aku kagumi beberapa bulan yang lalu. Fa adalah insfirasi ku dalam berkarya, terutama menulis. Karena hanya Fa yang bisa membangkitkan semangatku menulis diblog setelah rutinitas menyelesaikan tugas akhir kuliah tak kunjung selesai. Ditengah rasa jenuh yang menyerang, Fa selalu hadir di ingatan. Fa selalu hadir dalam bayang-bayang. Dan Fa adalah sumber tawa dan kerinduan itu.
---
Aku tak pernah tahu bagaimana perasaan Fa terhadap ku. Apakah dia suka dengan ku? Apakah dia hanya menganggapku sebatas teman? Aku tak tahu, aku hanya tahu tentang hati ku sendiri bahwa saat ini aku mencitainya.
---
Fa, mungkin saja mulai menyadari ketidakberesan ku dalam berkomunikasi lewat chating. Mulai membahas hal-hal diluar kewajaran sebagai teman. Aku merasa Fa agak kurang suka dengan sikapku. Tapi aku juga tak bisa menahan gejolak ku sendiri untuk tidak mengatakannya atau menyindirnya sedikit demi sedikit. Perihal cinta yang aku rasa.
---
Fa. Aku suka cemburu dengan mu, dan aku diam-diam suka kepo dengan akun socmed mu. Maaf kan aku Fa. Cinta memang gila, dan cinta memang tidak masuk akal. Bagaimanapun kamu menjelaskan, tetap saja aku kuekueh dengan apa yang aku rasakan sekarang. Fa, aku tak pernah tahu lebih jauh tentang mu. Aku hanya tahu kau lahir pada tahun 1994. Dari sekian banyak fakta tentang mu hanya tahun lahirmu yang aku tahu.
---
Fa. Rasanya sakit sekali, mencintaimu tanpa pernah tahu apakah kamu juga punya rasa yang sama dengan ku. Rasanya percuma aku merindukan mu setiap malam, kalau kamu sendiri tak pernah terbesit dipikiran tentang aku.
---
Fa. Kebahagian ku saat ini adalah kamu. Semangat yang aku jalani juga karena kamu.
---
Fa. Aku ingin sedikit bercerita.
---
Tahukah kamu Fa, dalam beberapa minggu ini, aku rela menunggu mu berjam--jam hanya demi kamu membalas chatingan ku. Tahukah kamu lagi Fa, aku sangat bahagia mendapat balasan pesan dari kamu, meskipun hanya berupa emotikon saja. Aku selalu nervous membaca pesan yang kamu tulis. Aku selalu senyum-senyum sendiri dan aku sangat bahagia menikmati itu semua tanpa pernah kamu tahu, Fa. Kamu tidak tahu betapa, betapa aku membenci arti menunggu. Betapa aku benci arti bersabar dalam penantian. Betapa aku membenci bahwa aku tak pernah pantas untuk dicintai bagaimana layaknya orang.
---
Fa. Ingin sekali aku menangis. Mengadu dihadapan mu, bagaimana aku menulis tentang mu berbulan-bulan tanpa pernah terlewat. Dan tanpa pernah kau tahu. Jika kamu perempuan Fa, kamu akan tahu betapa sulitnya menjaga hati untuk tidak bilang kesiapa-siapa. Jika kamu perempuan Fa, kamu akan tahu arti sabar dalam penantian yang tak kunjung hadir jadi kenyataan. 
---
Kamu bagai mimpi yang tak bisa akau gapai Fa. Kamu bagai bayang-bayang yang tak bisa aku sentuh. Kamu terlihat oleh mataku, tapi kamu tak bisa aku rasa dengan ragaku. Kamu ada, tapi aku tak tahu apakah kamu bersedia ada untukku.
---
Fa, aku lelah. Buat apa aku menanti disini berlama-lama, kalau kamu sendiri tak pernah memberi apa-apa.
---
Tuhan salahkah aku menantinya? Salahkah perasaan ini berharap dengannya? Tuhan, ijinkan aku mencintanya karena Mu. Tuhan, kenapa selalu aku yang mengejar?. Tuhan kenapa selalu aku yang memulai? Kenapa selalu aku yang agresif terhadapnya. Tuhan, tunjukan sesuatu agar pengharapan ini tidak terlalu jauh sehingga tidak menimbulkan kekecewaan yang berkepajangan dan melahirkan sakit hati yang teramat dalam.
---

 Tuhan, berikan aku kepastian....πŸ™
---

Komentar

Postingan Populer