aku memanggilnya kevin aprilio
aku memanggilnya Kevin Aprilio.
Padahal namanya bukan itu. Entah kenapa, aku suka sekali memandangnya
diam-diam. Dia temanku dikampus. Selama hampir empat tahun pula aku tak pernah
bertegur sapa, apalagi berbicara. Terkhir aku berbicara dengannya ketika kami
satu kelompok waktu ospek. Setelah ospek berakhir maka berakhir pula komunikasi
antara kami.
Meskipun kami tak sengaja
bertemu, ataupun melintas didepan masing-masing. Yang kami lakukan adalah hanya
sekedar tersenyum, sejauh itu. Kami hanya diam dan berusaha untuk saling
menjauh serta menghindar.
Aku juga tak mengerti apa
sebenarnya yang terjadi. Yang aku tahu, setiap bertemu dengannya ada rasa
bahagia yang sulit dijelaskan, sekaligus ada rasa sesal kenapa pernah kenal.
Empat tahun kita beriringan bersama, kami bagai dua orang asing yang begitu
dihadapkan seperti tak pernah mengenal sebelumnya. Padahal, waktu kami satu
kelompok ospek dulu, kami begitu akrab. Saling bercanda layaknya teman akrab.
Dan sekarang, lihatlah Berbicara saja sungguh sulit.
Dan barusan, tak sengaja kami
bertemu di perpustakaan. Aku kaget sekali melihatnya ada disitu berdiri tegak dan
kami sama-sama menatap untuk beberapa detik lamanya. Ada keinginan untuk
menyapanya atau paling tidak mengeluarkan suara bilang “hai”. Tapi itu tak bisa
aku lakukan. Aku terlalu sungkan untuk berbicara, karena aku sangat sadar
ternyata Kevin sangat menawan. Bahkan dilihat dari sisi manapun. Tetap saja
aura ketampanannya selalu memancar. Mungkin itu alasan sebab musabab aku tak
berani menegurnya. Aku tak tahu apakah dia juga mempunyai pikiran yang sama
dengan ku ataukah, ah entahlah. Aku tak berani menebak firasatnya ketika
melihatku tadi.
Alasanku kenapa memanggilnya
Kevin Aprilio, karena dia memang mirip sekali. Kalau didekatkan satu sama lain
tak ubahnya bagai pinang dibelah dua. Padahal namanya Riza Zakaria.
Empat tahun yang lalu aku pernah
menyimpan perasaan untuknya. Empat tahun yang lalu aku juga sering berharap
andai, andai dan ribuan andai lainnya. Tapi, buat apa berandai-andai pada
akhirnya tidak jadi kenyataan. Setelah menyadari semuanya, ternyata Riza Cuma
cinta semu dalam hidupku. Ternyata Riza tak ubahnya bagai balon besar yang lama-lama akan mengecil dan hilang
ditelan udara.
Kenapa aku mudah sekali jatuh
cinta. Tapi kenapa orang lain tak semudah untuk jatuh cinta denganku. Kenapa?. Itu
pertanyaan yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya.
Jatuh cinta dengannya memang
indah, tapi ending yang aku harapkan tak seindah diawal. Aku tahu, dia tak
pernah ada rasa denganku. Aku saja yang selalu kegeeran untuk minta
dibalas cintaku.
Sekarang kami memang bertemu dan
bertatap pandang dengan ngilu. Perasaan berbunga-bunga, bahagia, senyum-senyum
tak jelas juga hanya sesaat. Sesudah itu hilang seiring bergulirnya waktu.
Aku dewasa, dia juga. Aku harap
kami sama-sama mendewasakan perasaan. Tak mudah jatuh cinta dengan hanya sekali
memandang. Tak mudah jatuh cinta hanya kedipan semantara. Cinta dewasa adalah sebuah
keseriuasan bukan main-mainan. Cinta dewasa adalah sebuah akad, bukan Cuma kata
dan ikatan tanpa arah dan tujuan.
Mengaharapkannyapun juga tidak.
Meskipun aku bukan milik siapa-siapa, lain hal dengannya. Aku yakin pastilah
dia punya seseorang yang dicintainya. Tak etis mengharapkan orang yang sudah
punya kekasih. Sungguh tak etis. Maafkan kekhilafanku, dulu aku pernah terjebak
mencintai suami orang. Menginginkan agar hubungannya hancur, dan sumianya balik
menjadi kekasihku. Maafkan, masalalu ku memang buruk. Tapi, aku ingin berubah,
ingin menjadi perempuan yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Dulu aku tak pandai menyadari itu
semua, baru sekarang aku mengerti bahwa cinta itu memang tak harus memiliki.
Riza memang masalalu ku, meskipun
dia tegak berdiri didepanku. Bukan berarti aku berhak untuk bertingkah seperti
dulu. Aku ingin menjauh, bukan karena apa-apa. Aku takut, perasaan cinta yang
dulu sempat ku punya, justru akan hadir kembali. Cinta kadang memang
membingungkan, semakin disimpan dalam-dalam, perasaan itu juga pasti semakin
kuat untuk keluar dan menerjang. Bisa disaat waktu yang tepat ataupun
sebaliknya.
Semoga masalalu hanya sebuah
masalalu. Dan sekarang, kebahagiannya tetaplah menjadi miliknya. Pun juga
denganku.
Rindu, apa kabar?
Aku harap, kamu tenang disudut
sana.


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐