my hair


Setelah memutuskan untuk potong rambut sependek mungkin, maka menjadi seorang laki-laki akhirnya menjadi kenyataan. Ada rasa bahagia, tapi lebih banyak perasaan was-was, karena takut di marahi orang tua. Di sisi lain bahagia mampu menjadi diri sendiri, di lain pihak aku ternyata mengubah kodrat ku sebagai perempuan, untuk bisa menjadi seorang laki-laki.

Aku tahu, tak semua orang suka dengan apa yang aku lakukan, tapi aku tak peduli, karena menurut ku, kebahagian ku bukan datang dari mulut mereka. Apapun penilaian mereka tentang hidup ku, bodo amat.

Hidup ini singkat, makin singkat lagi jika aku harus mendengarkan ocehan tidak penting orang-orang. Suatu saat nanti, mungkin aku akan berubah lagi. entah lebih baik, atau semakin menyeramkan.
"Satu-satunya orang yang bisa menerima ku apa adanya, Cuma ibu ku. Ya, Cuma ibu ku yang tak pernah protes apapun bentuk tubuh ku. Cuma ibu ku, yang selalu bisa memotivasi agar aku mensyukuri pemberian Tuhan ini. ayah ku, ayah ku tak pernah membesarkan hati ku, dia sedikit mengejek dan kurang suka dengan ku. Bukan aku buruk sangka padanya, tapi memang seperti itu adanya. Aku juga kurang akur dengan ayah ku, selalu saja kami berbeda pendapat. Selalu saja berdebat pada hal-hal yang kuran penting. Menyebalkan."
Ayah ku juga pernah bilang di hadapan keluarga besar ku, bahwa aku tak begitu “cantik”. Yah, mau bagaimana lagi memang inilah takdir ku.

Sebenarnya aku juga ingin kok, punya wajah cantik dan menarik, punya kulit putih yang mulus, bentuk tubuh yang aduhai, mata yang tajam, senyum indah dengan bibir yang menggoda. Tapi, itu semua Cuma mimpi.  Cuma khayalan di sudut pikiran sana. Mana mungkin, bimsalabim, langsung berubah cantik. Mana mungkin.

Saat ini cermin lagi bersahabat dengan ku, biasanya setiap kali aku mengaca, cermin mentertawakan ku, mengolok-olok ku dengan kulit wajah yang agak hitam, hidung bak jambu air, saking besarnya. Dan rambut yang sulit di gambarkan. Lengkap sudah dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, kesimpulannya adalah jelek abis.

Sudah jelek tak punya cinta. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula. Sakitnya dobel. 

Kadang aku mengaanggap hidup ini tidak adil, kenapa mereka yang sudah di berikan Tuhan wajah cantih, otak cerdas, pergaulan luas, duit banyak, orang tua harmonis dan segala macam kenyamanan lainnya. yang bikin hidup ini tidak akan pernah putus asa. Kenapa?

Apakah aku salah, jika menginginkan itu semua.

Apakah ada yang melarang, ataukah aku tak akan pernah ada kesempetan untuk memilikinya. Aku tak punya kriteria yang di atas, malah yang kupunya justru sebaliknya. Menyedihkan sekali hidup ku, jika kriteria itu tidak ada satupun yang melekat pada diri ku.

sudahlah, mengeluh terus-menerus tak ada habisnya. kapan bersyukurnya? 

Tuhan, help me please?. 

Komentar

Postingan Populer