jangan galau berat, kamu tak akan kuat.
aku akui sih, aku memang kuper. Pacaran
aja gak pernah, jangan tanya bisa jalan sama cowok apa nggak. Sama sekali nggak
pernah. Boro-boro ditraktir pergi ketempat-tempat rekreasi. Masalahnya, Gak ada
orang yang mau ngajak sih. mirisss...
Tapi bukan berarti aku tak
bahagia menjalani hidup ini, aku bahagia dengan apa adanya aku sekarang. Aku bahagia
dengan menjadi diri sendiri. Hal paling indah yang kita rasakan dalam hidup ini
adalah mensyukuri nikmatNya.
Ada banyak orang diluaran sana
yang hidupnya biasa saja, tapi dia tetap bersyukur dengan takdirnya, dia tetap
tabah menjalani hidup, tanpa mengeluh. Seharusnya aku bisa mengambil pelajaran
hidup dari orang-orang tersebut.
Entah keinginan yang keberapa,
aku pengen banget pergi kebioskop. Pengen banget. Cuma, sampai detik ini keinginan
itu belum juga kesampaian. Mungkin nanti, bersama yang sudah halal. Hihi.
Btw, ngomongin yang sudah halal,
aku jadi galau lagi nih. gimana ya harus ceritanaya. Gini deh...
Aku puya perasaan sama seseorang,
tapi aku tidak tahu apakah dia juga punya rasa denganku. Mau sampai kapan aku
menunggu rasa itu terjawab? Mau sampai kapan aku bersabar menanti si dia juga
bilang perasaanya sama aku, entahlah.
Rasanya air mata mau tumpah.
rasanya air mata sudah tak terbendung lagi, satu-satunya jalan, menangis
dipojok kamar lalu tertidur karena kelelahan.
Aku punya cara tersendiri mengusir
galau, yaitu bawa makan sebanyak-banyaknya. Itu kalau lagi punya duit banyak. Kalau
lagi gak punya duit, bawa minum air putih satu galon, dan kalau galaunya masih
terasa, Minum lagi sampai galau itu hilang dengan sendirinya.
Selama tiga tahun terakhir,
tulisan diblog Cuma galau melulu isinya. Sampai susah mau nulis apa selain
galau.
Wabah galau seperti wabah malaria.
Menularnya terlalu cepat. Melihat teman galau, keikut galau. Melihat teman
bahagia galaunya semakin menjadi-jadi disertai dengan iri pula. Wah,
benar-benar galau yang menyesatkan. Eh, tapi memang benar loh, banyak anak
manusia gara-gara galau bunuh diri, gantung diri dan menceburkan diri. Ini dari
pemberitaan dimedia-media yang biasa aku lihat. Malah juga ada, bunuh dirinya
disiarkan langsung melalui sicial media.
Dalam Islam, mungkin saja
dilarang galau. Apalagi galau berlebihan seperti ini. kalau galau sudah
menyerang, semua aktifitas jadi ikut terhambat. Malas itu yang susah diajak
kompromi. Semua kegalauan ini berasal dari jauhnya kita sama Allah. Dosa yang
makin menumpuk, dan sering lalainya kita dalam memohon ampun. Sebenarnya sadar,
kita berada dijalan yang hampir tertikung, tapi kita tak mau membetulkan jalan
itu agar tidak lagi dijalan yang mengarah pada kemaksiatan. Kita terus saja
membiarkan diri, dijalan yang salah. Menyadari tapi tak membenari perbuatan
itu. Orang biasa menyebutnya, “belum nemu hidayah.” Agak susah sih di
beri penjelasan, kalau orang sudah ngomong belum nemu hidayah. Mungkin, aku
juga orang yang akan berkata demikian. “belum dikasih hidayah buat bertobat.”
Padahal, malaikat maut tidak bisa
di ajak kompromi, buat menunda kematian. Kalau sudah saatnya kita menikmati hidup
didunia ini berakhir, maka berakhirlah. Tidak ada lagi istilah tawar menawar,
apalagi tunda menunda. Bagi Malaikat penjemput nyawa, tak peduli orang tersebut
banyak dosa, atau banyak amal. Malaikat, Cuma melaksanakan perintah. Kalau dari
atasan menyuruh untuk berhenti menikmati bangku kenimatan di dunia, maka
sebagai bawahan tak bisa mengelak, untuk tetap minta dikasih kenikmatan itu
lagi.
Udah tahu hidup di dunia hanya
sementara, masih saja enggan untuk memperbanyak amal. Sudah tahu, bahwa
memperbanyak amal itu membawa hidup lebih hidup, masih saja malas tergerak
untuk berbuat baik.
Yah! “Belum nemu hidayah”, itu
lagikan, yang mau di sebut.
Ya sudah, kadang juga capek
memberi penjelasan sama diri sendiri, tentang selalu berbuat kebaikan tanpa
memandang apa, siapa dan bagaimana. Hati nurani, selalu mencegah untuk berbuat
maksiat tapi selalu saja kalah dengan nafsu. nafsu selalu berhasil menguasai
diri. kalau kita tak kuat menahan, maka kita ikut terbawa. kalau sudah terbawa
arus deras maksiat, maka susah untuk kembali kejalan yang lurus. Semoga kita
bisa memegang kendali diri sendiri, agar jangan sampai ikut terbawa, apalagi
berkubang dengan dosa.
Iya! Memang benar, namanya
manusia biasa. Kita tak bisa untuk menahan diri dari godaan itu. Apalagi jaman
sekarang, makin banyak godaan datang dari berbagai macam sarana. Kalau kita tak
pandai, mudah sekali kita terhempas.
Huhhh...
Kita sama-sama saling
mengingatkan dalam kebaikan. Kita sadar, kita bukan manusia yang terlepas dari
dosa dan maksiat. Kita hanya manusia lemah yang perlu pertolongan. Semoga sesama
saudara seiman dan seislam, kita akan dipertemukan di surgaNya nanti. Aminn.


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐