tak pernah liburan






Selama empat tahun kuliah, aku belum pernah merasakan liburan bareng teman-teman, misalnya bermalam kepantai, naik gunung ataupun berkemah. Sama sekali tidak pernah. Tidak pernah liburan bareng teman dikampus bukan, karena terbentur ijin dari orang tua, tapi uangku terlalu pas-pasan untuk bisa merasakan asyiknya liburan bareng mereka. Aku tak pernah punya uang berlebihan agar bisa liburan. Dalam sehari-hari saja uang ku amat terbatas. Bahkan, aku dengan rela tidak jajan.

Uang yang dikasih orang tuaku sangat minim, kalaupun ditabung, itu artinya aku harus rela tidak makan. Aku pernah tidak makan selama 3 hari, Cuma minum air saja. Dan, itu sangat tidak nyaman. Jauh dari orang tua membuat ku harus mandiri dalam segala hal, termasuk mengatur keuangan, kalau tidak pandai mengaturnya, bisa-bisa mati berdiri.

Orang tua ku hanya petani karet, dan sekarang harga karet sedang menurun. Orang tuaku tidak hanya aku yang di urus, ada dua saudaraku lagi yang juga sama membutuhkan uang. Jadi, aku harus sadar diri kalau mau minta uang berlebih, itupun aku tak pernah tega untuk mengucapkannya.

Orang tua ku sekarang sudah mulai tua, mereka tak sekuat dulu lagi bekerja. Dan, aku seharusnya malu kalau hanya mengandalkan pemasukan dari mereka. Dulu, aku sempat bekerja paruh waktu. Tapi tidak bertahan lama.

Sekarang aku tidak bekerja lagi, karena menunggu KKN (kuliah kerja nyata). Dan, sambil menunggu KKN ,aku memfokuskan diri untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah yang masih berantakan. Tugas akhir kuliahku lagi ada hambatan, dan aku belum dapat ACC dari dosen pembimbingku. Semoga diberikan kemudahan dalam mengerjakannya. Aminnn...

Aku iri dengan sepupuku yang kuliah di UIN Antasari, dia sudah sering pergi kemana-mana secara Cuma-Cuma. Selain dapat teman, pengalam, tentu saja uang juga. Kapan ya aku seperti itu.

Akukan juga mau liburan, mau liburan kepantai. Mau naik gunung, mau ikut seminar ini, seminar itu. Mau keluar kota karena ada kegiatan yang bermanfaat. Kapan ya aku bisa merasakan semua itu.

Di semester akhir ini, selain fokus ingin menyelesaikan tugas akhir, aku juga ingin bekerja, menabung, lalu mendaftar untuk lanjut ke S2. Ingin sekali aku melanjutkan kuliah, kalau bisa di luar kota atau bahkan keluar negri sekalian. Oh iya, ssstttt... kalau aku keluar negri, pengen bangat naik haji, sama pergi ke benua Afrika lho. Semoga ada jalan, kan “there is a will, there is a way”. Semoga...

Aku pernah punya angan, kalau mau ngambil S2 pengennya sih sama suami, itupun kalau suaminya sarjana. Kalau tidak, kan masih bisa untuk kuliah. Orang belajarkan tidak pandang usia. Meskipun sudah jadi kakek-nenek. Btw, aku nulis ini masih belum punya calon suami lho. Hihi...

Aku terharu dengan pasangan halal yang kuliah diluar negri, berjuangnya sama-sama, asik kali ya. belajar di luar negri tentu tidak semudah dinegri sendiri. Belum lagi, bajet yang harus disediakan. pastinya sangat banyak, Sukur-sukur kalau kuliah dapat beasiswa dari pihak tertentu, kalau tidak pastilah memikirkan untuk cari kerja.

Bagaimana ya rasanya tinggal diluar negri? Aku penasaran.

Diluar negrikan punya banyak musim, katanya yang pernah tinggal diluar negri, kalau tiba musim salju badan orang Indonesia tidak cocok, bahkan bisa menyebabkan gatal-gatal serta bintik merah di sekujur tubuh. tak ada pilihan lain selain merasakannya.

Aku merasa termotivasi dengan novel Nergi 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Novel itu benar-benar inspirasi untuk di baca dan di jadikan motivasi untuk menggapai impian. Penulis Negri 5 Menara cukup singkat memberikan pesan dalam novel tersebut, tapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka hasilnya luar biasa. Man Jadda wa Jada (siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasillah). Hanya dengan kata-kata tersebut maka impian akan berhasil.

Ahmad Fuadi sangat brilian dalam menuangkan idenya. Membaca novelnya, seperti ikut terbawa pada tahun 80an. aku justru teringat dengan mendiang kakek ku yang juga lulusan PM Gontor. Kesan yang ditulis Ahmad Fuadi selama bejar di PM, sungguh indah. Apa yang dilihat, apa yang didengar semuanya termasuk pembelajaran. Beruntungnya kakekku pernah sekolah di PM Gontor. Padahal kalau tidak salah kakek ku berangkat ke PM sekitar tahun 60an. sayang, dulu aku belum banyak mengerti tentang kakekku yang pernah sekolah di PM, sehingga aku merasa menyesal tidak banyak bertanya bagaimana kakek ku melewati masa-masa belajar di sana. Kakekku pernah bercerita, beliau pernah dihukum botak karena tidak menggunakan bahasa. Aku Cuma ingat beliau menceritakan tentang dihukum, itu saja. Aku mengagumi kakekku dalam segala hal. Beliau sangat luar biasa. Dan, ibuku adalah anak dari kakekku yang juga sungguh amat luar biasa.


Komentar

Postingan Populer