Seperti petualangan
Perempuan selalu identik dengan berbelanja. Bahkan, yang seharusnya tidak dibeli justru dibeli. Kalau sudah melihat barang bagus perempuan suka khilaf, kalau bisa satu toko dibeli semua.
Dan, aku juga punya hobby berbelanja. Apalagi kalau harga diskonnya banyak. Dan barangnya masih bagus.
Ada banyak barang-barang diskon yang aku beli, mulai dari buku, baju, kerudung sampai makananpun tak luput untuk di buru.
Aku sadar, aku tak punya banyak uang untuk membeli barang-barang mahal tanpa diskon, otomatis aku hanya bisa menikmati barang bagus dengan potongan harga yang sangat miring. Misalnya saja, akhir-akhir ini sering berburu pakaian diskon, rata-rata harganya dibawah 50 ribu dan menurut ku, bajunya tidak ketinggalan jaman juga kok.
Masalah pakaian, aku tidak peduli apakah serasi atau tidak dengan kerudung, atasan dan juga bawahan yang aku kenakan. Selama aku merasa nyaman dengan apa yang aku pakai, tak masalah.
Maklum, aku agak unik orangnya. Bahasa kasarnya agak sedikit norak. Ah, bodo amat. Selama tak ada orang yang aku sakiti, kenapa mesti takut untuk berekspresi. Life is art, begitu bukan kata-katanya. Hidup itu seni bro, jadi tak apa-apa kita berpenampilan dengan versi dan ala kita sendiri. Kalau kita dengerin orang buat melarang kita, memangnya dia siapa? Selama pakaian yang kita kenakan sopan, tak apa-apakan. Masalah warna, masalah serasi, itu tergantung masing-masing dari setiap individunya.
Mahasiswa akhir dan tidak punya penghasilan sama sekali, kecuali dari orang tua itu, sangat susah sekali membeli barang-barang keluaran terbaru. Uang yang diberi orang tua hanya cukup buat membeli keperluan yang pokok-pokoknya saja. Misalnya seperti membeli migas, bahan-bahan makanan dan sisanya buat bayar asrama dan jajan yang super-duper perlu dihemat.
Ngomong-ngomong masalah bayar asrama nih, aku bukan anak asrama yang selalu bayar tepat waktu. Bahkan, saking leletnya bayar asrama, aku hampir nunggak lebih dari setengah tahun. Bayangin aja, bagaimana harus membayarnya. Semoaga ada jalan keluar dan secepatnya dapat rezeki nomplok buat bayar asrama.
Namanya anak asrama, aku sudah kebal dapat singgungan dari pengelola asrama. Bahwa, jangan sampai ada yang nunggak, misalnya nunggak bayar sewa asrama dalam tempo tiga bulan, maka siap-siap untuk meninggalkan asrama. Dan, Alhamdulillah sekarang nunggaknya berlipat ganda tapi Tuhan masih berbaik hati tidak mengusir ku dari asrama ini.
Ini tahun ke 10 aku tinggal di asrama. Banyak sekali hal-hal yang lucu sampai dengan hal-hal yang kurang berkenan aku rasakan. Malahan, saking lamanya tinggal di asrama aku malas buat pulang kerumah. Apalagi, jika lulus nanti. Mungkin, pilihannya ikut suami. Jika nanti bersuami.
Asrama adalah tempat berjuta kenangan, tempat berkumpul kerinduan, dan tempat canda, tawa, serta tangisan. Tidak mudah untuk meninggalkan begitu saja, apalagi kalau ada cintanya. Kalau gak ada cintanya, paling-paling Cuma rindu sesaat lalu pergi tanpa kabar.
Di sini, di asrama ini aku menemukan jati diriku. Belajar banyak hal, belajar bagaimana berproses menjadi dewasa dengan pemahaman terbaik. Eh, tunggu dulu deh, rasa-rasanya, semakin dewasa kok aku semakin nakal ya.
Jadi gini ceritanya:
Aku, yang biasa dikenal sebagai anak pendiam, ramah, dan tidak kelihatan seperti anak nakal justru melakukan di luar batas sebagai kodrat seorang anak perempuan. Apa itu?
Nah itu dia, aku berubah jadi laki-laki. Bukan seluruhnya, hanya bagian atas saja. Aku dengan tega memotong pendek rambut panjang ku, yang kata ibuku sendiri rambut panjang adalah keindahan dari perempuan dan dianggap sebagai mahkota. Kalau dianggap sebagai mahkota berarti sangat berharga. Dan, aku tak peduli dengan urusan rambut panjangku, meskipun banyak yang kecewa, aku memutuskan untuk memotong rambut panjangku sependek mungkin.
Lebih tepatnya, gaya rambutku seperti anak laki-laki yang tak terurus.
Aku sendiri memang suka bereksprimen, maka dari itu aku melakukan uji coba dengan rambutku sendiri.
Ternyata, masalah rambut tidak sesepele yang aku bayangkan, Ibuku sempat nangis karena aku dianggap anak yang tidak patuh pada orang tua dan juga Norma Agama. Aku yang begitu santun (akayyyy) masa iya, seperti anak laki-laki rambutnya. Kalau Ibu sudah sampai nangis begitu melihat tampilan anaknya, aku benar-benar merasa bersalah. Memang sih, orang tua mana yang senang anaknya melawan kodrat yang sudah digariskan Tuhan.
Maaf Ibu. Tak ada niat sedikitpun membuat Ibu berlinang air mata.
Tapi, aku berjanji pada Ibuku untuk tidak lagi memotong rambut sependek mungkin. Paling-paling aku memotong rambut sampai pundak.
Iya itu tadi, hal yang paling aku sesalkan, gara-gara menganggur di asrama akhirnya, rambut sendiri yang kena korban.
Anak asrama itu kaya akan pengalaman. Jadi anak asrama itu seperti sedang melakukan petualangan yang panjang, semakin di jalani makan akan semakin menakjubkan kejadiannya. Semakin berdiam diri di kamar dan tidak mau bergaul maka akan terasa sepi, sunyi dan keheningannya.
Eh, aduh, malas ah mau nulis Nona Na. Ingat, bulan ramadhan masa iya harus nyinyir. Maaaf ya Nona Na. Semoga pertemanan sekaligus rasa persaudaraan kita tetap awet, meskipun suka sekali marah-marah tidak jelas tapi sebenarnya aku sayang kok.
Lain kali, kamu jangan terlalu pendiam ya Nona Na.
Terimakasih saudara-saudara muslimahku, terimakasih dengan kata yang tidak banyak aku tulis. Terimakasih yang tak terhingga pada seluruh alam semesta.
Hei,,,
I Love You...


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐