tidak kelar-kelar



Jadi mahasiswa itu memang keren kedengarannya. Orang-orangpun menilai mahasiswa itu pasti yang punya banyak wawasan, pengalaman, dan juga keintelektualan yang wow.

Pendapat itu memang benar adanya.

Tapi, jangan Cuma melihat sekilas lalu menyimpulkan. Jadi mahasiswa itu berat sesungguhnya, apalagi yang mau menyelesaikan tugas akhir kuliah. MasyaAllah beratnya luar biasa. Apalagi kalau di hadapi tanpa persiapan yang matang dari segi ilmu, finansial dan kesabaran ekstra, bisa-bisa semuanya jadi runyam.

Aku contohnya.

Aku memang pernah berpendapat bahwa mahasiswa akhir itu mudah saja untuk diselesaikan, tapi setelah dijalani, aku hampir tidak sanggup.

Rasanya kepala hampir pecah, memikirkan skripsi yang tak selesai-selesai. Belum lagi masalah keuangan, bayar ini, bayar itu. Semuanya benar-benar di batas kewajaran. Katanya sekolah itu investasi buat masa depan, yang namanya proses pasti ada sakit, yang namanya keinginan tentu ada hambatan dan rintangan. Dan, cara terbaik untuk menyelesaikan semuanaya adalah dengan melewatinya. Semoga saja skripsi ku cepat kelar dan beres, biar tidak mumet memikirkan.

Baru S1 saja sudah segitu rumitnya, belum lagi S2. Padahal, cita-cita mau banget buat melanjutkan S2, ini permintaan paling gak masuk akal, mungkin. (pengen melanjutkan S2 bersama suami, pakai emot senyum yang ada merah pipinya).

Semoga keinginan itu jadi kenyataan. Ehhh,,, pengennya lagi lanjut S2nya diluar negri, yang ada salju-saljunya. Gak apa-apa dong bermimpi, siapa tahu itu jadi kenyataan.

Skripsi itu kayak bola besi yang beratnya Naudzubillah, dan sebagai mahasiswa yang tadi katanya punya intelektual wow, bagaimana memecahkan bola besi tersebut. Skripsi itu tidak sembarangan di buat, tidak bisa sesuka hati. Skripsi itu ada prosedur yang harus di ikuti. Kalau kita tidak mau mengikutinya, bisa gak lulus-lulus. Malukan sama junior, di anggap sebagai datuk kampus.

Jadi mahasiswa itu memang ada sedikit kebanggaan, tapi kalau kita mampu mempertanggungjawabkan hasil yang selama ini kita dapatkan. Kalau kita mahasiswa, tapi tidak lebih tidak kurang pikirannya seperti orang yang tak berpendidikan tinggi, apa yang bisa di banggakan. Otomatis, kita malah malu mengakaui bahwa kita pernah jadi mahasiswa. Malu kampus, punya lulusan yang tak berkompeten. Iyakan?

Itu menurut pendapat pribadi ku saja. Kita tak perlu bertikai apalagi sampai bercerai (memangnya kawin) hanya karena kita berbeda pendapat. Setiap dari kita punya pikiran masing-masing, kita tak mungkin, punya dua kepala, punya dua kepribadian, untuk tetap satu argumen.

Hei, kita diajarkan untuk saling menghormati pendapat satu dengan yang lain.

Ngomong-ngomong masalah skripsi, skripsikan berat, jadi tak perlu dipikirkan yang penting dikerjakan, dan selesai. Yang jadi permasalahanku sekarang ini adalah, aku tengah benci dengan seoran perempuan bernama Nona Na. Entah kenapa, selalu saja aku gemes, pengen mendamprat mukanya, atau nggak ku cabik-cabik tubuhnya sampai terurai-berai isi dalamnya. Entahlah, aku selalu di buat greget sama ini orang.

Bingung juga kenapa, kebencian itu sampai mendalam seperti ini. hampir tiga tahun kami sekamar, dan hampir selama itu kebencian yang aku rasakan tak berkurang, yang ada justru semakin bertambah dan bertubi-tubi. Padahal aku nulis ini lagi bulan Ramadhan, bulan yang penuh maaf, ampunan, dan berkah. Seharusnya aku bisa mengendalikan emosi agar jangan bersifat seperti itu. Tapi, setan rupanya lebih banyak menguasai diriku ketimbang hati dan akal sehat. Allah Karim, maafkan aku.

Masalah dengan Nona Na tidak ada selesai-selesainya selama kami masih disatu kamarkan, aku setuju banget kalau dia tahun ini lulus dan tidak di kamar ini lagi. atau, gini deh, aku yang duluan lulus agar tak menambah dosaku. Daripada gini, bawaan di bulan ramadhan bukan nambah pahala, yang ada justru nambah dosa dan berkurang pahala. Sakitnya tuh di akhirat kena azab Tuhan.

Aneh aja, semakin skripsi tak selesai-selesai. Kok semakin jadi orang pembenci ya aku. Bawaannya pasti dengki, marah, dan segala macam penyakit hati yang tidak baik.  Ya Rabbi...

Satu lagi,

Kemaren ada cowok yang pengen ngajak ketemuan, di tungguin berjam-jam sampai berganti baju, sampai berulang kali pakai make up tidak juga datang-datang. Di beri kabar tidak, diberi penjelasan kenapa tidak datangpun juga tidak. saat itu, aku sangat kecewa, merasa dikhianati, merasa di sakiti. Pengen banget buat ngirim pesan yang isinya sumpah serapah, tapi aku tahan dan berusaha bersikap wajar serta berpikir positif. Saat-saat dikecewakan seperti itu, susah sekali untuk berpikir jernih, yang ada ingin marah-marah dan memuntahkan segela bentuk kekesalan. Bayangin aja, berjam-jam nunggu sampai sholat asharpun tidak sempat kerena di kejar magrib demi nunggu cowok itu.

Itu cowok kok bengek amat ya, heran aja. Tu orang kayaknya gak paham di kasih kode-kode. Baiklah, semoga nanti aku mendapat penjelasan dari cowok tersebut bagaimana cerita yang sebenarnya. Apakah dia juga ingin menemuiku, ataukah, ah entahlah.

Jadi, ceritanya:

Aku kesal karena skripsi ku belum selesa-selesai,

Terus itu tambah kesal lagi karena Nona Na, yang hampir membuatku pusing dan senewan tingkat Einstein (apanya, gak nyambung), ya gitulah pokoknya,

Dan, cowok tadi yang juga posisinya sama dengan Nona Na, yaitu sama-sama membuatku hampir membencinya, syukurlah aku tidak jadi membenci cowok tersebut untuk detik ini. tidak tahu setelah selesai nulis nanti. semoga tidak ya.

Komentar

Postingan Populer