Bau busuk

Bau busuk yang tidak bisa kuhindari adalah bau busuk bernama rindu.

Ia selalu hadir pada waktu yang tidak tepat.
Malam ini, malam paling dingin dengan hawa yang mencekam, tak tanggung-tanggung aku merindukan mu.

aku tak berjanji bisa sabar menunggumu sampai kamu lulus dari sekolah. Aku tahu itu berat untuk ku lakukan, tapi tak ada cara lain selain, membohongi diriku sendiri demi kebahagian orang banyak. Mungkin saja kamu akan berpikiran aku penghianat, munafik bahkan tak bermoral. Wajar jika kamu mengeluarkan kata-kata kurang pantas karena sebuah rasa kecewa. Aku juga pernah sepertimu, pernah merasa dikecewakan seseorang. Kamu tahu siapa seseorang itu, ya, kamu sendiri orangnya yang pernah mengecewakan. Tapi itu dulu, dulu sekali.

Sekarang, biarkan saja rindu yang menyemarakkan hati dan perasaan kita.

Biarkan ia menari bersama sampai denting musik yang mengirinya berhenti sendiri.

Janganlah kita egois, sampai melarang untuk berhubungan dengan orang lain. ada banyak kebahagian yang kita dapat, meskipun tidak ditakdirkan bersama. Jangan pernah berpikiran sesempit itu. Jangan memenjarakan perasaan sendiri, sampai lupa dan buta melihat cinta di tempat lain. hidup itu pilihan, sama dengan perasaan. Buat apa kita bertahan kalau sakit, buat apa bertahan kalau tidak adalagi kesempatan seperti dulu.

Saatnya kita beranjak pergi, meninggalkan kenangan ditempat yang sudah disediakan lalu mencari dan berusaha menemukan yang lebih baik menurut versi dan ala kita masing-masing.

Kata orang hidup itu menikmati, dan aku menikmati kerinduan bersamamu. Bukan kemaren ataupun besok, tapi hari ini dan detik ini.

Detak jantungku lebih cepat, dan rahanggku mengukir bentuk senyum paling indah. Ah, andai saja kamu melihat, pasti kamu juga akan mengalami hal yang sama.

Malam ini hujan. Dan, bagaimana dengan malam ditempatmu? Apakah sama atau berbeda?

Ada  orang lain dalam hidupku, apakah kamu cemburu?

Entahlah. Aku tidak tahu kabarmu lagi, kamu tiba-tiba saja menghilang. Belum sempat aku ingin mengatakan rahasia besar untukmu, kamu justru sudah ditelan waktu.

Kamu,

Penantian berminggu-minggu lalu, dan rindu yang tak lagi malu-malu,

Semoga kamu bahagia, dan aku juga.

Pembunuh paling sadis adalah kesepian, dan sendiri adalah temannya. Jika keduanya bersatu maka lengkap sudah jadi mayat yang mengenaskan karena menanggung rindu seorang diri.


Komentar

Postingan Populer