Jurnalis
Sejak dulu pengen banget jadi
jurnalis entah itu media cetak ataupun media online. Apalagi setelah nonton di
acara salah satu TV Nasional swasta yang mengupas kehidupan jurnalis.
Sepertinya asyik banget. Perasaan untuk menjadi jurnalispun membuncah dan semangat
yang menggebu-gebu. Akan kupikirkan habis sidang skripsi ini tentang rencana
itu. pengen magang di media-media tersebut.
Aku pengen banget kerja yang
tidak hanya monoton duduk di bangku dan berhadapan dengan komputer saja. Tapi
aku mau kerja yang berhubungan ketempat-tempat lain buat meliput berbagai macam
peristiwa dan fenomena untuk dijadikan bahan deadline.
Aku iri banget dengan senior
dikampus yang sudah jadi jurnalis media online, iri banget. Kayaknya kalau aku
mau itu terjadi menjadi impian kenyataan kayaknya aku harus kejar impian itu.
Kalau Cuma “pengen” dan hanya berdiam diri saja mana bisa.
Tapi, dalam hidup dan keputusan
yang kita buat kadang bisa saja tidak berjalan dengan lancar. Bisa jadi, karena
aku belum bisa ini, gak bisa itu, ataupun masalah-masalah yang terkait dengan
kehidupan pribadiku.
Anehnya, aku tak pernah punya
fokus untuk menjadikan mimpi itu benar-benar nyata. Untuk mengejar impian
tersebut. Apa aku terlalu takut pada kegagalan, atau aku terlalu takut dengan
ayah dan ibu karena terhalang ijin dari mereka. Entahlah.
aku bukan anak perempuan yang
sesuka hati mau pergi jauh dari orang tua, bukan akunya yang tidak mau, hanya
saja ibuku terlalu takut membiarkan anak perempuannya pergi jauh-jauh. Ibuku
terlalu khawatir akan terjadi sesuatu denganku. Ibu ku terlalu sayang, sampai
aku mau keluar dari kota ku pun tak bisa.
Jurnalis, siapa sih yang tidak
ingin jadi seorang jurnalis. Ah, aku benar-benar iri dengan mereka yang bisa
mewujudkan impiannya, keluar dari kotanya untuk mencari hal baru dan dunia
baru. Kehidupan ku hanya berputar pada kampus, asrama dan perpustakaan, aku tak
pernah seperti teman-temanku yang lain. yang bisa jalan-jalan, yang bisa naik
kepuncak gunung, lalu berteriak sesuka hati, berfoto ria dan mengunggahnya ke
social media, atau lari kepantai menikmati sunset atau bagusnya sunrise ataupun
pergi melepas jenuh dengan menonton film kebioskop. Duniaku terlalu kecil untuk
menikmati keseruan itu, dan bajetku juga tak pernah cukup untuk menjadi seperti
mereka. “Jadilah diri sendiri” dan benar saja, akupun menjadi diri sendiri yang
terasa hampa.
Ah, apalagi jika menikah nanti.
Tentu aku tak sebebas seperti sekarang ini. memikirkan tentang sebuah
pernikahan, aku muak, bosan dan jenuh. usia 23 tahun buat masyarakat di
kampungku sudah dianggap terlalu tua, hampir jadi perempuan tak laku-laku.
Kenyataannya memang seperti itu. Bagi mereka usia tersebut, tentulah sudah
menikah, punya dua atau tiga anak dan hei, tentu saja punya kehidupan yang
mapan. Minimal sudah punya pekerjaan tetap, dan tidak lagi berteduh dibawah
ketiak orang tua.
Dulu, setelah lulus sekolah aku
sempat mencari kampus yang menyediakan untuk belajar lebih khusus tentang
jurnalis, tapi pencarian itu hanya sebatas rasa ingin tahu saja. Aku tak
sanggup bilang dan mengatakannya pada orang tua ingin mengambil jurusan itu.
Pada satu titik aku justru
memilih menjadi seorang mahasiswa di bidang keguruan. Aku sendiri tidak tahu
kenapa aku nyemplung menjadi seorang guru. Semoga suatu saat nanti ada jalan
untuk menjadi guru ke semua tempat di daerah Indonesia. Seperti ikut program
UNICEF misalnya, ataupun organisasi-organisi yang menyediakan minatku itu.
Aku terharu sendiri jika membaca
biografi seseorang yang berprofesi sebagai wartawa ataupun bekerja di bagian
sosial kemasyarakatan dan membantu orang-orang atas dasar kemanusian dan pula
bisa bekerjasama dengan negara-negara lain. aku yakin, mimpi itu bakal jadi
kenyataan. Untuk sekarang ini aku tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tuhan
Maha Mendengar apa yang menjadi impianku.


Komentar
Posting Komentar
๐tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐๐