finally



Lamaran. Dan hei, aku baru saja di lamar pada tanggal 29 Desember tadi. bahagia dong, akhirnya ada juga yang mau sama aku. Bahagia dong, akhirnya tidur gak meluk guling lagi dan gak sendirian lagi yang pasti. dan, tentu saja yang paling bahagia adalah keluarga besarku. ini adalah kabar paling istimewa untuk tahun 2019 ini. yeayyyyy!!!!

Di penghujung tahun 2018, teka-teki itu terbuka. Kalau doi bakal jadi jodoh ku kelak, InsyaAllah.  Bakal ada yang jadi imam sholat tiap waktu, bakal ada yang siap jadi tulang punggung keluarga, dan separuh dari ibadah ku akan sempurna dengan ME-NI-KAH.

Bingung juga sih, kenapa, Pada akhirnya aku menerimanya, menyuruhnya datang kerumah buat menemui Ayah dan Ibu, sampai mengangcam pula dengan memberi waktu seminggu, kalau dalam waktu seminggu tidak bisa menemui Ayah Ibu, berarti doi yang katanya ingin melamar dan serius hanya candaan saja. Aku rasa itu hal paling bodoh yang aku lakukan, tapi membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Melihat Ayah Ibu bahagia, akupun turut bahagia. Meskipun dalam hati, tak henti-hentinya mengutuk diri sendiri. “.....bego, bego, bego banget gue....”

Dan ternyata, doi beneran datang kerumah bersama Ustadz tempat doi mengajar di pesantren. Benar-benar di luar dugaan. Aku pikir, jangka waktu seminggu itu bakal membuat doi mundur dan aku tidak jadi menikah dengannya. Tapi Tuhan punya rencana lain, tanpa ba bi bu orang tuaku dengan ringan hati menerimanya. Dan aku sendiri masih di liputi kebingungan. Berkali-kali aku mengeja namanya, menyandingkan dengan nama ku, cocok apa tidak, entahlah, aku suka geli sendiri membayangkannya.

Sehari setelah tanggal pernikahan kami di tentukan, doi menemuiku.

Tentu saja, pertemuan yang agak mendadak ini membuatku kelimpungan. Bingung harus pakai baju apa, rok apa, kira-kira kerudung yang cocok seperti apa. Eh, mau tak mau akhirnya aku menemui doi dengan pakaian seadanya, yang penting sedikit rapi. Menghadapi doi gugupnya setengah mati, tapi gak sampai mati beneran juga. Untung saja doi bukan tipikal orang yang pendiam, akhirnya yang tadinya gugup  banget, setelah doi ngajak bicara ini itu, rasa guguppun sirna. Malah ketagihan buat ketemu lagi dan ngomon hal-hal yang lain lagi.

Tiap kali doi ngomong, aku selalu menatap wajahnya, aku perhatikan setiap inci dari wajahnya yang banyak di tumbuhi bulu-bulu. Hatiku berbisik “Oh Tuhan, inilah wajah yang bakal menemani ku di setiap beribah kepada Mu. Inilah orang yang bakal di sebut “Bapak” oleh anak-anak ku kelak, dan ini lah orang yang bakal menggantikan peran dan tanggung jawab Ayah Ibu ku nanti.”

Katanya doi juga bingung sendiri kenapa bisa secepat itu melamar ku, doi juga gak bisa menjelaskan secara logika. Katanya sih, “inilah jalan yang sudah di atur Tuhan untuk kita berdua.” Gitu katanya. Kalau doi udah ngomong begitu, rasanya aku gak sanggup buat gak tertawa, Cuma takut aja menyinggung perasaanya, takut tawaku justru menghinanya. Takut tawaku, membuat dia tidak suka pada ku. kan gawat, kalau sampai doi gak jadi menikahi ku, bukan aku sakit hati ataupun kecewa, enggak. Aku takut ketika tinggal satu langkah menuju “sah” dan pernikahan ini batal, pasti orang terdekatku bakal murka, bisa-bisa neraka di bayar di muka.

Selama hampir sejam kami ngobrol, dari topik A berubah ketopik B, C  dan kamipun mengakhiri pembicaraan dengan pulang naik kendaraan masing-masing. Padahal ya pengen di bonceng, eh lupa. kan belum muhrim. Ah, paling mah doi ngomong “boncengannya nati aja ya, kalau sudah halal. ”Beeuuhhh!!!!

Doi namanya, ku sebut inisial saja biar orang pada penasaran, inisialnya adalah awalan M. Sama dengan nama ku yang juga berawalan huruf M (Muliati Asyura). Namanya bukan Muhammad.  Dan sekarangpun aku suka menulis namanya di lembar catatan pribadiku. Kutulis namanya entah itu hati ku sedang gembira  ataupun kesal. Sampai aku bosan menulis namanya, baru ku hentikan. Aduh, lucu aja momen-momen nulis nama doi di buku. Kadang ku ukir dengan tulisan indah kadang juga ku ukir dengan tulisan serba salah. Haha... maaf ya Mas. Aku kayaknya bukan perempuan pilihan yang tepat deh buat Mas untuk menemani hidup suka-duka Mas.

Doi umurnya 3 tahun lebih tua dari ku. dulu aku cukup takut ketika menikah di usia 23 tahun, takut mendapatkan suami yang umurnya jauh lebih tua dari ku, tapi ternyata tidak.

Terimakasih Mas, sudah memilih ku tanpa melihat siapa dan bagaimana diriku. Terimakasih banyak Mas atas perhatian dan pengertiannya menghadapi ku yang suka tak tahu diri ini. ajarilah aku untuk lebih dekat mengenal apa itu cinta, kasih sayang dan kebahagian. Dan, bimbinglah aku untuk lebih jauh mengenal Tuhan yang memiliki Arrahman dan Arrahim untuk bisa menggapai surga Nya bersama mu kelak.

Komentar

Posting Komentar

๐Ÿ’tulisan yang baik dan benar adalah gambaran pribadi diri sendiri. apapun yang kita tulis di kolom ini, seperti itulah adanya kita. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’š

Postingan Populer